kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. kiri dan kanan bergantian, sesekali berjeda. semakin laju sepeda kami semakin kami tak tahu ke mana kami menuju. kami hanya sepasang kaki, bukan pemegang kendali. yang kami tahu hanya membuat sepeda kami lancar meluncur maju. kadang kami membawa penumpang, sebongkah pantat, sekarung kentang, atau bebek calon santapan yang dipadatkan dalam keranjang. kalau kami boleh memilih, kami lebih suka membawa telur. kami bahagia membayangkan telur itu k…
Continue
Posted on June 13th, 2008 at 2:41pm —
No Comments (Add)
kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak melulu dikungkung sepi. kami ingin beranda kami hangat oleh sukaduka yang datang dan pergi. kami ingin belajar tak takut pada pencuri, sebab bila siap berbagi, takkan ada yang bisa direbut lagi.
kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak merasa terkurung. kami menetas sebagai burung, rumah kami teranyam dari jerami kering dan serat-serat cinta yang kami pintal, kami gelung. lalu kami terbang dan pulang setiap kali, tanpa p…
Continue
Posted on April 10th, 2008 at 12:38pm —
Comment
(Add)
kami sering berlindung di bawah lantai rumah. tak ada barel anggur atau aroma ragi yang menua. kami hanya perindu ruang kubur, tempat musim dan peluh mengasam, mengabur. o salju yang jauh, beku yang jenuh. kami rindu dingin yang memadamkan tungku-tungku, badai yang menumbangkan tugu-tugu batu.
di bawah lantai rumah, kami ternakkan sejuk kristal salju dan pusar angin rindu. lalu jadilah alasan kami saling berpeluk, berpeluh di dada kekasih, membuang ragu, memanen hangat sembari menghitung tasbih…
Continue
Posted on March 31st, 2008 at 1:55pm —
No Comments (Add)
di ketinggian gunung kami, puncak-puncak membeku oleh rahasia mandala. kitab-kitab kami yang tua, setua semesta yang tercatat dalam peta astrologi dan skema gemintang saat kelahiran dan kematian kami ditentukan, telah berdebu oleh tanah kami yang kian gersang oleh panas angkara, kian merah oleh peluru-peluru yang jatuh basah. kami lupa betapa wangi udara yang pernah kami hirup kini pergi ke mana entah. betapa denting melodi dari embun dan kristal salju yang jatuh yang pernah membimbing kami meni…
Continue
Posted on March 27th, 2008 at 3:00pm —
No Comments (Add)
bacalah kami sebagai angka satu. atau huruf alif dalam alifbata-mu, alfabeta yang juga tertulis di kitab-kitab dalam rak pustaka kami. di kamar ini kami menggelar tikar tebal dan secarik harapan. lalu di atasnya kami dudukkan dunia kami sehari-hari. lalu kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir kami yang saling berpagut ini, merunut sesuluran yang tak lagi jelas pucuk dan pokoknya. bagi kami tak lagi penting, sebab di negeri kami setiap puisi adalah hiperlink ke jendela manapun kami berpaling.…
Continue
Posted on March 18th, 2008 at 1:54pm —
Comments
(Add)
Comment Wall (13 comments)
You need to be a member of Warung Puisi to add comments!
Join this network
salam Doel
pa kabar?
katanya abis sakit ya om?
aku baru gabung nieh om
mohon bimbingannya yaaah? (^^)v
aku tunggu undangan masuk "kelas nyantet malam dan sore2" nya yaa om... dah lama absen nieh hehehe
View All Comments