Dari Tentena,
perempuan muda
semengkal mangga
Angin perbukitan bagai kereta kuda
menyeretnya pada musim-musim
memanen hujan
Tapi hanya ada
perempuan muda
dalam mobil colt tua
ke arah Rantepao
Dulu, menjelang subuh
kanak-kanak kami terbunuh
dan kematian jadi lagu panjang
di antara ngarai yang tergerus
di antara bebatang pinus
sebelum sampai sungai Poso,
tempat segalanya dibenamkan.
Tanpa rosario,
deru pepohonan dari jendela berdoa
: menyibakkan helai rambutnya.
2008
Posted on April 30th, 2008 at 3:49pm —
Comments
(Add)
Suatu hari, Justo*, akan kaulihat
anak burung terbang begitu bebas
di antara hamparan bunga kapas
dan pepucuk tebu yang hijau pucat.
Meski, tahukah kau, Justo? kini
tak ada lagi Tuan Baron,
hanya puluhan sinetron
membutakan mataku setiap hari.
Tapi, aku rasa lebih baik begitu, Justo
kubiarkan mata-buta ini terbang solo
jelajahi masa lalu, kini, atau nanti
setelah kumatikan sebelas kanal televisi.
Dan seringan kapas, selepas
anak burung di pepucuk tebu
kuserahkan segala rindu
pada cahaya yang…
Continue
Posted on April 2nd, 2008 at 7:04pm —
No Comments (Add)
Kali ini, saya iseng melihat-lihat beberapa puisi yang dipajang di warung-puisi. Dan benar bagaikan sedang dalam sebuah perjalanan, tiba-tiba saya dikejutkan oleh puisi yang saya anggap sebagai sebuah potret.
Dalam obrolan singkat beberapa waktu lalu, seorang teman mengatakan bahwa pada suatu ketika, dunia puisi Barat dikejutkan oleh puisi Timur (Cina dan Jepang) yang cenderung bersifat potret belaka dari sebuah suasana yang sedang terjadi dalam penciptaan puisi tersebut. Lantas pertanyaannya,…
Continue
Posted on April 1st, 2008 at 8:18pm —
Comment
(Add)
Bayang kubah megah
di antara redup
lampu pedagang durian.
Gaduh mesin kapal
timbul tenggelam
pada timbunan petikemas
sepanjang bahu jalan.
Taman-taman tanpa lampu
terdiam seperti
dedaunan layu.
Di angkasa,
bulan terpecah
oleh awan yang pongah
di ujung malam.
Ada yang tiba-tiba
terasa hangat
di mataku.
2008
Posted on March 24th, 2008 at 2:30pm —
Comment
(Add)
Apa yang Kau tanya akan kujawab sepenuh hati,
seperti menyunting yang paling mawar dari reranting duri.
Sebagaimana cinta Kau senandungkan selalu musim semi,
yang kudengar bagai dengung lebah di bibir melati.
Seperti hendak singgah atau ingin pergi.
Apa yang ingin Kau tanya telah dipasang
sebagai papan peringatan di pintu pagar
: Dilarang menginjak rumput!
Karena aku tak ingin Kau kecewa
pada hal-hal yang tak pernah kusebut.
2008
Posted on March 24th, 2008 at 12:40pm —
Comment
(Add)
Comment Wall (29 comments)
You need to be a member of Warung Puisi to add comments!
Join this network
hingga kita saling berkenalan dari perkenalan. semoga perkenalan ini membuat kita saling kenal.
hehehehehh
best regads
janoer
salam kenal dari kedalaman lautan inspirasi
best regards
janoer
best regards
janoer
salam kenal ah ^^
memang dia kalo makan gitu ..
View All Comments