Warung Puisi

PaparanKata

Lanjutan Diskusi dari blognya mas Harsandi

ARUNG
: Rahmalia

pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar

tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat

kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin

jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan

Banda Aceh, 1707 ‘08


Diatas adalah sebuah puisi yang di posting oleh Harsandi Nugraha, yang kemudian tanggapan yang diberikan oleh anjingkesepian memulai sebuah diskusi menarik, oleh karena itu saya mencoba untuk memindahkan diskusi yang terjadi di blog nya Harsandi Nugraha ke Forum ini. Oke dibawah ini adalah diskusi yang berkembang, dan silahkan dilanjutkan disini:

Comment by anjingkesepian on July 18, 2008 at 4:42pm
tradisional banget yah(dalam arti negatip yeah), bentuknya masih 4 baris dalam satu bait trus persajakan masih ab ab gitu, pilihan kata masih menggunakan kata2 yg biasa digunakan puisi lawas ada semacam pelayaran, kepak camar, ombak, badai, mendung,biduk, nusa,dll. yang jadi pertanyaan: mana itu pemberontakan seorang penyair? yang konon selalu melakukan pemberontakan terhadap karya2 terdahulu? mampuskah kau harsandi? ye ye yeah he he


Comment by Harsandi Nugraha 1 day ago
Saya memang suka yang tradisional kawan....namun dari bentuk tradisional inilah kita berasal ...apa yang ada dalam khasanah puisi sekarang berasal dari yang dirintis oleh para pendahulu kita dulu, apa salah kita mengulang kaji kembali...? , terus mengapa harus selalu ada pemberontakan pada seorang penyair masa kini...? coba anda jelaskan dengan definisi yang sederhana saja pemberontakan mana yang sering dilakukan pada penyair sekarang, kalau menurut saya, bukan pemberontakan tapi pengayaan bentuk puisi... dan semuanya mengacu pada bentuk2 lama dari sebuah puisi. Mungkin andalah yang bisa mengajarkan pada kita2 tentang hal itu. Thanks kritiknya, jangan sering kesepian dong...


Comment by anjingkesepian 1 day ago
he he
sekilas info saja saya selalu mencoba menulis dengan spirit humor, kawan(tapi ah kau bukan temanku kan?) atau komentku ada kau rasa menggurui mu, aih maafkan aku? kugelar gerimis ini untukmu. atau ini dapat kita baca kita beda budaya kau atjeh dan aku jawa? "wah terlalu sedikit ini tempat unt pelajaran sejarah dan mengarang kawan" ;) kalau kau suka dengan bentuk2 syair ya sudahlah masalah selera tak bisa kita ributkan, dan selesai tak ada masalah bukan?

masalah pemberontakan (penolakan konvensi keindahan katakanlah begitu) bila tak dipunyai seorang penyair kiamatlah kita(?) puisi2 akan selalu dan senantiasa seragam itu yg saya maksud, seorang penyair harus mempunyai ciri khusus yg membedakan atau setidak2nya pemilihan kata2nya saja. Misalkan ada penyair yg suka dengan hal2 sepele seperti celana, sarung, telefon, sepeda, pacar, dsbnya ada juga yg suka mengekplotir selangkangan, ranjang, kelamin, dlsb. kemudian penolakan soal bentuk, bukankah ini sudah selesai tak perlu dipertanyakan? dari pantun , gurindam, syair, sonnet, kemudian puisi modern, sekali lagi tentang puisi lama dan puisi baru harusnya sudah selesai

lalu tentang gaul (aku tak pernah suka dengan kata2 ini) apa yg kau maksud dengan kata2 ini? Pergi ke cafe beramai2 minum2 sampai mabuk, bertukar tangkap dengan pacar orang lain? meniduri setiap wanita yg kita kenal? aku selalu menganggap mereka2 itu orang2 yg kesepian kawan.


Comment by pakcik Ahmad 16 hours ago
Aih.. ini menjadi diskusi yang menarik. Perihal bentuk dan aturan-aturan (pakem) tradisi yang menjadi persoalan, bukanlah hal yang baru diperdebatkan. Bagi saya rima adalah asesori saja. Puisi yang saya pahami ada di badannya. Pemilihan diksi maupun imaji/simbol yang dipakai seorang penulis juga masih merupakan asesori pendukung, menurut pandangan awamku lho. Namun, kekuatan puisi adalah ketika dia dapat memberiku getar di dada (aha...macam syair lagu saja). Inilah puisi yang top markotop.. puisi yang dapat memberikan rasa nikmat di lidah bukan sekedar rasa kenyang saja, maknyuss.

Puisi kini umumnya adalah karya berbentuk teks (namun ini juga akan dapat memunculkan diskusi lain yang hangat, apakah puisi hanyalah seni terbaca atau seni pengucapan..nantilah dibahas lagi). Namun ketika teks ini kita pahami hanya sebagai benda kaku yang terlihat oleh mata yang cuma 2 ini, matilah puisi itu. Puisi pun menjadi layaknya laporan jurnalistik saja.

Beberapa penyair yang lebih senior bahkan pernah mengutak ngatik bentuk syair lama dalam baju kekinian. Pantun yang sangat tradisional dalam bentuk (metrum, bentuk -- sampiran & isi, serta rima) diadon dengan bahan-bahan masa kini. Kalau kita rajin, maka kita akan ketemu pantun berasa modern..

Bagaimana sodara-sodaraku ?


Comment by anjingkesepian 4 hours ago
Salam pak cik
Pertanyaannnya yg mendasar yg harus diajukan adalah ,apa itu puisi? Bukankah selama ini pengertian puisi itu sendiri senantiasa berubah dan selalu tidak memadai? Sebagai contoh sederhana bukankah puisi sutardji dulu banyak yg tidak mengakuinya sebagai puisi? Mana suara2 itu sekarang? Bila kemudian secara umum dikatakan bahwa setiap teks yg dimaksud puisi adalah puisi, maka konsekwensinya misal daftar belanjaan yg diberikan selingkuhan saya, saya anggap sebagai puisi maka kafilah ini akan tetap berlalu ketika orang2 menggonggong mencacinya.

Sebuah puisi kau sebut kuat bila mampu menggetarkan dada, apa itu tidak menyederhanakan ribuan ton kumpulan puisi yang tidak terjual yang tidak mampu menggetarkan dadamu karena keterbatasan keterbacaan terhadap kumpulan2 puisi tsb (baca: ketidak mampuanmu untuk menggetarkan dadamu) juga para pembaca puisi yg hanya untk gaya2an saja, sekedar pamer baca buku kumpulan puisi di depan pacar atau selingkuhan, meskipun itu buku kumpulan puisi milik penyair ternama, puisi2 tersebut tidaklah kuat karena tidak mampu menggetarkan dadadada mereka? Bila kemudian daftar belanjaan istri saya yang berisi misalkan daftar peralatan sadomasokis , semacam cemeti, sepatu boot, celana kulit, perlatan bedah: skapel blade(?), sutures with needle, dan segala macam asesoris logam dlsbnya sesuai imajinasi istri saya. Bila saya susun dalam sebuah rencana puisi yg jenius dan mampu menngetarkan orang2 yg normal yg membaca, pasti ini kau sebut sebuah puisi yg kuat ? he he

bagaimana puisi bisa berbadan? Saya tak tahu apa itu maksud mu, pak cik? Mangsudmu suasana, tema, imaji, puisi itu kah?

Bagaimana sebuah pemilihan kata adalah kau sebut asesori sebuah ornament untuk gaya2an saja? Saya pikir itu cocok untuk sebuah puisi lama saja, semacam pantun, syair yang terperkosa oleh bentuk dan aturan2 yg harus diikuti Yang saya percayai Dunia Puisi hanyalah kata kata, bermutu ataukah layu tergantung apakah ia mampu menggugah, merangsang, memperkaya pemikiran kita, memperkaya kehidupan kita


Comment by pakcik Ahmad 2 hours ago
Nah kukatakan juga apa..ini pasti menjadi diskusi yang mengasyikkan. Aku akan coba menjawab perlahan-lahan semampuku saja..

mas AK,
Pertama, tulisanku di atas adalah pendapat pribadiku. Aku sendiri adalah orang yang baru serius dalam bersastra (menikmati sastra). Perjalanan ini memberikanku banyak catatan setelah menerima pelajaran dari siapa saja yang memberikan ilmu sastra kepadaku, apalagi puisi. Hingga akhirnya sekarang aku memiliki pendapat pribadiku seperti yang kutulis di atas. Begitu juga uraian-uraianku di bawah ini...

Perihal definisi puisi...terus terang aku tidak mengetahuinya dengan definitif dan jelas. Beberapa pendapat yang kubaca dan kudengar malah lebih bersifat filosofis saja dibandingkan dengan definisi yang bersifat teknis. Salah satu yang kuingat adalah, bahwa "puisi itu sebagaimana niat penulis (penyair)nya." Lentur sekali bukan definisi ini ? Berarti ketika seseorang menyair dengan menuliskan syairnya yang dia katakan puisi, yaa itu puisi. Kesimpulanku, definisi ini berada dalam wilayah personal. Bila diperluas lagi..maka bisa saja catatan belanja istri panjenengan yang kelak beliau akui sebagai puisi, disebut puisi. Demikian pula berton-ton kumpulan puisi yang laku maupun tidak, itulah puisi. Setidaknya bagi si penyairnya. Apakah saya setuju dengan pendapat ini ? Secara peribadi pendapat ini tidak ada salahnya. Karena ini selain pendapat personal juga penamaan untuk bentuk/badan luar/wadag. Karena aku juga memahami bahwa puisi adalah makhluk (hidup ? hehehe..) maka selain bentuk kasarnya, puisi juga harus memiliki "zat gerak" yang menghidupinya, membuatnya bernafas, bercerita, memukau, menimbulkan rasa benci dst dst.. Banyak pendapat mengatakan itulah, ruh puisi. Bagiku, inilah "zat gerak" yang membuat sebuah puisi menimbulkan getar di dada. Lagi-lagi ini adalah pendapat personal. Bagiku misalnya, puisi SCB lebih banyak memberikan kebingungan dari pada getar di dadaku dibandingkan puisi-puisinya D. Zawawi Imron. Namun bagi panjenengan bisa saja tidak.

Memang kalau difikir-fikir, terlalu banyak penjelasan yang personal/pribadi untuk puisi. Menurutku ini sah-sah saja sebab kekuatan puisi ketika diperdengarkan (dengan oral maupun dibaca teksnya) adalah ketika muncul tafsiran si pembaca. Tafsiran ini pasti muncul ketika ada "zat gerak" tersebut. Dan yang pasti tidak semua orang sama.

Satu hal yang mungkin mas AK salah cerna dari respon awal saya di atas, persoalan "puisi kuat" atau tidak. Saya tidak berani mendefinisikan puisi yang kuat itu seperti apa ke publik mas.. Jadi daftar belanja istri panjenengan yang panjenengan susun sedemikian rupa hingga menggetarkan pembacanya, itu puisi (setidaknya menurut panjenengan toh..) tapi belum tentu kuat menurut saya.

O ya perihal asesori/ornamen..yaa bisa saja menurutku itu untuk gaya2an. Jika, badan utuh puisinya kelak tidak menimbulkan "getar di dadaku".

Begitu... lanjuut......


Comment by Harsandi Nugraha 15 minutes ago
wah....nambah seru nih...

Mas AK ( minjem istilah Pakcik..) sepertinya aku harus belajar banyak pada anda, terutama tentang selera humor ( sori kalau aku terlalu responsif menanggapi komenmu ) maklum saya penyair mentah yang baru nyoba2 menggerakkan hati mencari bentuk2 puisi dari yang kuno hingga sophisticated.. walaupun tetap ketertarikanku pada pemilihan kata2 yang tradisional lebih dominan ( mungkin karena latar belakang budayaku disitu.) tapi dalam hal bentuk aku tidak melulu tradisional.. menurutku berpuisi adalah perihal mencari ' feel' ....

Tak ada masalah lagi mas AK...perbedaan bukan dosa dan Gaul yang kumaksud adalah seperti ini..... berbeda faham..bertukar serapah..meniduri perasaanmu sendiri..kemudian mencari sudut dimana kita bisa minum kopi bersama sampai mabuk...dan berkata 'peace bro...

Silahkan lanjut diskusinya dengan Pakcik...( secara aku tak sehebat kalian bertukar ilmu..)

Reply to This

Replies to This Discussion

ngomongngomong nih AK
kapan post tulisantulisanmu (sajak,puisi)

o ya bung TSP kalau sudah habis sebatang
ikut ngomong juga dong habis itu
udud lagi
Sebuah Penjelahan Masa Lalu
untuk Hari-hari Perjalanan Panjang
ke Depan


ARUNG
: Rahmalia

pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar

tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat

kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin

jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan

Banda Aceh, 1707 ‘08

Sajak ini ditulis sebagai dedikasi untuk seseorang. Kemungkinan besar akan mengutarakan perasaan si penulis terhadap orang tersebut. Tetapi tidak salah jika ada kata "kita" di sana bisa juga diibaratkan si pembacalah yang ingin diajak penyair sajak ini dalam perenungannya.

Garis besar dari sajak ini berbicara mengenai perjalanan, dalam hal ini adalah perjalanan lewat laut atau sering disebut pelayaran. Pada bait pertama dijelaskan bahwa pelayaran ini disahihkan matahari, diibaratkan bahwa perjalanan ini sudah menyerupai hari-hari itu sendiri, karena hari itu ditentukan dengan terbitnya matahari, bukan? Tapi sebelumnya, lihatlah betapa penyair berusaha keras menjaga bentuk keseluruhan puisi ini dalam bait-bait yang teratur rimanya a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-h-g-h. Ini menunjukkan keseriusan si penyair untuk memanfaatkan alat-alat puitika.

Kembali ke bait pertama, bahwa dalam hari-hari perjalanan "aku lirik" ada pengertian yang didapat olehnya bahwa "terik" yang terjadi pada hari-hari itu justru merekatkan ("ikat-mengikat") hati si "aku lirik" dengan "dia" yang untuk itu sajak ini ditujukan. Larik "kepak camar ..." agaknya dijadikan semacam "kembangan" hanya untuk menyambung "sesuai ikrar ..." itu. Jika kedua larik ("kepak camar..." dan "sesuai ikrar...") dihilangkan, sebenarnya bait pertama itu sudah cukup jelas dengan dua larik yang lain ("pelayaran ..." dan "terik...").

Bait kedua memperjelas dan mempertegas kondisi di bait pertama, bahwa ternyata tidak cuma terik hari saja, tetapi "ombak" dan "palung laut", yang biasanya menjadi kekuatiran seorang pelaut, ternyata memang itu suatu keharusan ("hakikat") yang harus terjadi dalam sebuah pelayaran. Bahkan si aku lirik menganggapnya seperti "tembang", seperti "nyanyian" yang sangat bisa jadi bermakna hiburan.

Bait ketiga masih penegasan dari bait pertama, hanya intensitas perasaannya lebih di"tajam"kan lagi, jika dalam sebuah cerita inilah "klimaks"nya. Ada sebuah "badai" dan si "aku lirik" justru meminta "dia" (atau kita yang diajak bicara dengan sajak ini) untuk membesarkan hati bahwa bukan "badai" yang tengah melanda tetapi sebenarnya "kita memainkan dawai-dawai angin" bahkan saat "badai" melanda, si aku lirik mengajak "bersiul lagu cinta yang gempita" karena hal-hal tersebut akan membuat sebuah "senyawa peluk" untuk "menghambarkan dingin."

Bait terakhir mengambarkan sebuah kepasrahan yang mendalam ("hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan") dalam menghadapi semua yang ada baik itu lautan yang sudah disebutkan ada "terik", "ombak", "palung" dan "badai", ataupun persinggahan-persinggahan (bisa jadi ini semacam pengalihan perhatian) yang berupa "nusa-nusa" yang "dipuisikan". Hal itu semua akan bisa terjadi jika (ini permintaan dari si aku lirik) menjaga "biduk marwah."

Terlepas dari penggunaan kata-kata yang biasa terdapat dalam sajak-sajak melayu, ataupun "ke-terlalu taat-an" penyair menjaga rima yang a-b-a-b itu, sajak ini termasuk sajak yang menganut pengertian "utuh dan kompleks" dalam mengemasnya. Sehingga "pesan" di dalam sajak itu tersampaikan dengan baik kepada pembacanya. Bagi saya sebagai penikmat sajak, sajak semacam ini cukup enak diterima dan tidak tertele-tele.

Salam,

Dedy

Reply to This

ha ha
terimakasih atas pujian di koment mu yg terdahulu , sukurlah kalau ada yg terbahak itu suatu keberhasilan lain, ada sebagian diri saya yg ingin melawak disini ;)

sebenarnya saya sudah meniati utk menstop memberikan komentar. pada koment saya yg terakhir sudah saya sudah ucap itu (tulisan saya gak gampang dimengerti [ruwet] yah? ), tetapi ada suara suara tanpa rupa yang bergaung memangilmanggil? Dan sebagai orang yang sopan dan rajin menabung(?) saya harus menyahutinya bukan? Tidak? Oh maafkan

pada awalnya saya tidak mempersoalkan soal sastra lama yang di pertentangkan dengan sastra mutakhir katakanlah begitu, saya hanya mempertanyakan pemberontakan dalam hal ini soal bentuk puisi masa kini yg di tulis dengan “penjara sastra lama itu” dalam hal ini seperti apa yang telah saya mulai dalam koment ini.

Saya juga tidak mau ikut2an “bermain” dalam wilayah “tafsir” karena terlalu merepotkan dan saya pikir, saya rasa, akan terlalu banyak “statemen” pribadi yang pada akhirnya tanpa tautan ataupun tanpa berdasar pada “pasang surutnya pasar’ perpuisian mutakhir. Demikianlah

Bila kau kemudian dedy ada merasa yg perlu kau bantah atau menjadi hajad hidupmu untuk menanggapi ku mungkin lebih enak bila saya membuat kata2 kunci koment2 saya terdahulu agar supaya lebih gampanglah untuk menyelami pikiran saya(waduh?) yang kadang memang tergesa dan “slip of tongue” dimana2 dikarenakan saya tidak sempat unt membaca buku2 (dan yg jelas tidak mempunyai buku2 teori sastra!)karena online.dan tentu ini masih penuh dengan spirit cengegesan.amin

poin pertama puisi adalah tulisan yg diniatkan sebagai puisi

puisi yg saya imajinasikan, adalah puisi yang mendekap masa depan penuh kebebasan, tanpa perlu mengkais kais dan menyesap2 apa yg dulu ada

ada pingpong antara diperlukan dan tidak diperlukannya seorang yang mampu “memberikan akte kepenyairan”

dimata saya seorang yang mencoba menulis dengan gaya lama maupun menulis dengan gaya penyair yang di pujanya adalah hina dan lacur dan pantas dinista karena saya menjunjung tinggi kejujuran

seorang penulis harus memberontak kepada penulis lainnya ia harus menjadi dirinya sendiri yang berhubungan dengan

puisi sebagai “mahluk” yang bisa berkembang, mencanggihkan diri sendiri, dalam tataran “pemberontakan” terhadap jamannya

puisi yang katakanlah bermutu setidaknya harus mampu menggugah, merangsang memperkaya pemikiran

penyair adalah seorang “pemain” yg bias memerankan apa saja menjadi nabi atau kanak2 abadi


beberapa point itu mungkin yg bisa kau dan yg lain2 bantah, semisalnya utk lebih terarahnya “tukar tangkap’ ini, mungkin bisa kau tambahkan bila ada kau pikir statemen2 yg “menggerayangimu”yg tercecer di koment2 sebelum2nya

Reply to This

Sdr AK,

Ternyata, setelah saya baca-baca lagi, apa yang Anda sampaikan adalah sesuatu yang menurut Anda sendiri adanya. Jadi saya berpikir tidak ada yang perlu didiskusikan lagi jika sudah begitu adanya. Buat saya lebih baik saya menulis puisi atau melakukan apresiasi ketika saya menemukan puisi yang saya anggap menarik untuk diapresiasi. Seperti dalam lagu yang dibawakan oleh Broery Pesolima / Marantika (alm.) "engkau begini ..aku begitu ..biarkanlah ..."

Hanya sebaiknya, jika Anda ingin mengkritik karya orang lain jangan gunakan persepsi Anda sendiri. Ibarat pepatah itu seperti "mengukur baju sendiri" (atavistik lagi ya? maaf soalnya belum ada yang modern bahkan posmo untuk peribahasa ini). Ini saran saja, sebagai seorang yang terpelajar, tentunya tidak ada salahnya "browsing" atau "googling" (karena ada Anda sebut Anda tidak sempat baca buku) untuk mencari dasar-dasar yang ilmiah maupun berlaku umum ketika Anda hendak mengkritik. Sebab persoalan kritik itu pasti mempengaruhi sisi psikologis orang yang dikritik. Tetapi jika Anda berhasil meletakkan pendapat Anda pada landasan kritik yang tepat, bisa jadi hal itu akan menjadi pembelajaran bagi orang lain juga.

Saya sendiri beberapa waktu lalu mendapat bantahan tentang kritik saya terhadap sebuah karya sastra, dan saya selalu berusaha untuk kembali pada dasar-dasar ilmiah yang saya punya untuk menjawab bantahan itu supaya ada pembelajaran pada kedua pihak. Mudah-mudahan Anda bisa melakukannya.

Reply to This

Apa saya harus mengulang dari awal dedy?
(Itu bukanlah kalimat awal dari sebuah pusi yang jelek! He he )

Dedy meskipun statemen saya bersifat pribadi katakanlah begitu, tetapi anda salah besar bila apa yg saya katakan kau terka sebagai perkataan pribadi belaka (tanpa dasar).saya berani mempertahankan pendapat ini dan akan saya bela dengan kalang kabut bila di sangkut pautkan misalnya dengan fenomena “pasar” dan “pasang surutnya perpuisian” mutakhir, tanpa itu semua akan terasa “nggombal” saja seperti apa yang kau lakukan, dengan apa yang kau sebut “apresiasi” dengan judul “Sebuah Penjelahan Masa Lalu untuk Hari-hari Perjalanan Panjang ke Depan” yang sangat subyektif tanpa keterkaitan dengan gegap gempita pasar perpuisian mutakhir. Apa yang diperoleh sesudah kau “mengapreasi” itu tak ada, kecuali sebuah pekerjaan rumah dari guru sekolah menengah untuk murid2 tentunya.

Sekali lagi ,awal saya memberi koment tidak berdasarkan pendapat pribadi, tidak, pasar, pasar..! he he atau “pasang surut perpuisian” itulah yang menjadi dasar.

Hehe
Saya juga tidak akan pernah tahu akan apa yang kau sebut dengan dasar2 ilmiah itu (yang mungkin saja diimpor dari tanah2 asing) yang rasanya akan sedikit bertentangan dengan apa yang kau bela tentang “meneruskan tradisi” ketika dapat dibaca dalam sejarah seorang a teuw dengan teori2 dengan dasar2 ilmiahnya gagu menanggapi puisi sutardji

Reply to This

1. Rupanya Anda tidak menangkap esensi perkataan saya tentang "persepsi pribadi" Seperti perdebatan terdahulu sudah saya utarakan bahwa Anda tengah membangun definisi puisi bahkan kepenyairan (persis yang Anda tulis sebelum posting saya yang ada Broery-nya) ini sah-sah saja. Saya pun "menuntut hal-hal yang sama (puisi harus mengandung kebaruan, berusaha melampaui keadaan bahkan jamannya, dll)" ketika menemukan puisi orang lain atau bahkan ketika menulis. Tetapi saya lebih memposisikan diri untuk menikmati segala jenis puisi yang dihasilkan daripada mengolok-oloknya. Itulah perbedaan Anda dan saya.

2. Ketika mengkritik, saya berusaha sedikit mungkin menyentuh emosi (baca membuat panas kuping) dengan menggunakan paparan-paparan yang enak dibaca. Biasanya hal ini justru akan lebih nikmat diterima oleh siapa saja sebagai pembelajaran ketimbang debat kusir.

3. Saya lebih suka mengatasnamakan pribadi daripada kepentingan yang lebih luas jika membahas sesuatu, kenapa? Karena siapalah saya dibandingkan mereka yang ada di luar sana. Itu jelas. Jika Anda bilang Anda mewakili pasar? Sejauh apakah itu? Adakah tolok ukurnya? Saya salut pada Anda yang berani mengatakan secara tidak langsung 'menjaga' pasang surut perpuisian ..wah ..hebat sekali itu ..Saya lebih senang jika di kemudian hari ada yang membuang buku puisi saya ke tempat sampah di depan saya, daripada dia (yang baca dari blog atau pinjam buku puisi saya dari orang lain) mengatakan kepada orang di sebelahnya "Ah apa ini? Puisi sampah!" Dan ketika ada yang bertanya "Kenapa?" lalu dia menjelaskan hal-hal seperti yang Anda jelaskan sekarang ini. Karena walaupun dia membuang buku saya, dia telah membeli buku saya, yang artinya dia benar-benar mewakili pasar buku puisi. Masalah suka atau tidak suka, saya rasa itu sangat personal.

4. Apresiasi saya yang sangat subyektif terhadap puisi Harsandi Nugraha itu sengaja saya lakukan untuk mengatakan secara tidak langsung kepada Anda bahwa puisi yang Anda bilang jelek pun masih bisa dibaca dan dinikmati. Tergantung dari bagaimana caranya kita menikmati. Karena balik lagi pada postingan pertama saya : puisi adalah puisi, dia tidak menuntut apapun dari Anda selain membacanya dan menikmatinya. Terlebih gontok-gontokan puisi bagus / jelek tidak akan menghasilkan apa-apa untuk puisi itu sendiri.

5. Anda tidak bisa menghapus sejarah. Mau bukti? Coba Anda tulis satu kata dengan alfabet yang anda cipta sendiri, karena alfabet itu bagian dari sejarah.

Salam

Dedy

Reply to This

Mas-mas yang hebat-hebat, tanya....
apakah kita mesti memberontak?
sebagai anak saya selalu berusaha jadi anak baik
tetapi selalu ada saja keinginan yang tidak sesuai dengan orang tua kita
jika secara tidak sengaja pun seringkali kita berontak,
kita harus jadi pemberontak yang seperti apa?

tidak bolehkan jika saya memberontak diri sendiri biar jadi anak baik?

Reply to This

mas joko,
"memberontak" itu kan hanya istilah yang mungkin mempunyai arti, makna, yang boleh jadi sangat bisa subyektif menurut masingmasing individu
tapi jika kita melakukannya tanpa penolakan tentunya akan terasa nyaman
dan jika kita telah meyakininya tentu ada konsekwensi tanggung jawabnya pula
jadi biarlah bapak bapak ini teguh dengan keyakinannya masingmasing
bentuk baru , ungkapan baru atau apapun yang baru bukan untuk ditiru bukan pula untuk ditolak
jadi mari kita menemukan diri kita sendirisendiri
dan belajar meyakini

Reply to This

Wah... nonton ah sambil minum coklat anget :D

Reply to This

Thank's mas awan (kalo saya boleh manggil ky gitu) saya setuju. hanya saja sebenarnya saya curiga, bahwa bapak yang saya berontaki itu dulu juga sempat memberontak ke kakek saya. Juga para pendahulu puisi. jangan-jangan para pendahulu puisi itu dulunya juga memberontak thd para leluhur puisi. Jika demikian lantas yang disebut hal baru dalam pemberontakan itu yang mana? lha wong pemberontakan sendiri bukan merupakan hal baru.
makanya saya ingin mencari hal lain (memberontak) dari pemberontakan. Tapi apa ya....

(sambil mikir, mas TSP minta rokoknya dong)

Reply to This

gak po po mas joko sampeyan boleh panggil aku 'ky' atau apa saja

selama engkau dan aku masih menggunakan alat yang namanya akal dan pikir
nyaris selalu tak ada absoluditas

makanya mas joko jangan mencari lagi ya
karena akan selalu siasia he he he ...

langsung aja ditemukan ... jadi nggak siasia lagi ... selamat berjuang !!!

Reply to This

  • 1
  • 2

RSS

About Warung Puisi

PaparanKata PaparanKata created this social network on Ning.

Create your own social network!

Ruang Kelas Warung Puisi

Halo teman² warpus,
Ayoooo..siapa yang mau belajar mengapresiasi puisi..Yuk ikutan aja kelas puisi, yang akan diadakan:

Hari/tanggal: Selasa/29 Juli 2008
Waktu : 15:00 WIB
Narasumber : Hasan Aspahani (lagi? iya doongg ;) )
Tempat : ruang kelas yahoo!conference


Saya akan mengundang teman² sekalian pada saat kelas akan dibuka. Bagi yang ingin ikutan, silahkan menambahkan namaku dalam list YM mu. ID-ku penabuluangsa@yahoo.com.

nb:
Kelas ini terbatas hanya untuk member warungpuisi.ning dan warung-puisi@yahoogroups. Mohon untuk tidak mengundang pihak di luar komunitas tsb, demi tercapainya efektifitas pembelajaran.

Terimakasih.

salampuisi,
milla

© 2008   Created by PaparanKata on Ning.   Create your own social network

Report an Issue  |  Feedback  |  Privacy  |  Terms of Service