Warung Puisi

PaparanKata

Lanjutan Diskusi dari blognya mas Harsandi

ARUNG
: Rahmalia

pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar

tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat

kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin

jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan

Banda Aceh, 1707 ‘08


Diatas adalah sebuah puisi yang di posting oleh Harsandi Nugraha, yang kemudian tanggapan yang diberikan oleh anjingkesepian memulai sebuah diskusi menarik, oleh karena itu saya mencoba untuk memindahkan diskusi yang terjadi di blog nya Harsandi Nugraha ke Forum ini. Oke dibawah ini adalah diskusi yang berkembang, dan silahkan dilanjutkan disini:

Comment by anjingkesepian on July 18, 2008 at 4:42pm
tradisional banget yah(dalam arti negatip yeah), bentuknya masih 4 baris dalam satu bait trus persajakan masih ab ab gitu, pilihan kata masih menggunakan kata2 yg biasa digunakan puisi lawas ada semacam pelayaran, kepak camar, ombak, badai, mendung,biduk, nusa,dll. yang jadi pertanyaan: mana itu pemberontakan seorang penyair? yang konon selalu melakukan pemberontakan terhadap karya2 terdahulu? mampuskah kau harsandi? ye ye yeah he he


Comment by Harsandi Nugraha 1 day ago
Saya memang suka yang tradisional kawan....namun dari bentuk tradisional inilah kita berasal ...apa yang ada dalam khasanah puisi sekarang berasal dari yang dirintis oleh para pendahulu kita dulu, apa salah kita mengulang kaji kembali...? , terus mengapa harus selalu ada pemberontakan pada seorang penyair masa kini...? coba anda jelaskan dengan definisi yang sederhana saja pemberontakan mana yang sering dilakukan pada penyair sekarang, kalau menurut saya, bukan pemberontakan tapi pengayaan bentuk puisi... dan semuanya mengacu pada bentuk2 lama dari sebuah puisi. Mungkin andalah yang bisa mengajarkan pada kita2 tentang hal itu. Thanks kritiknya, jangan sering kesepian dong...


Comment by anjingkesepian 1 day ago
he he
sekilas info saja saya selalu mencoba menulis dengan spirit humor, kawan(tapi ah kau bukan temanku kan?) atau komentku ada kau rasa menggurui mu, aih maafkan aku? kugelar gerimis ini untukmu. atau ini dapat kita baca kita beda budaya kau atjeh dan aku jawa? "wah terlalu sedikit ini tempat unt pelajaran sejarah dan mengarang kawan" ;) kalau kau suka dengan bentuk2 syair ya sudahlah masalah selera tak bisa kita ributkan, dan selesai tak ada masalah bukan?

masalah pemberontakan (penolakan konvensi keindahan katakanlah begitu) bila tak dipunyai seorang penyair kiamatlah kita(?) puisi2 akan selalu dan senantiasa seragam itu yg saya maksud, seorang penyair harus mempunyai ciri khusus yg membedakan atau setidak2nya pemilihan kata2nya saja. Misalkan ada penyair yg suka dengan hal2 sepele seperti celana, sarung, telefon, sepeda, pacar, dsbnya ada juga yg suka mengekplotir selangkangan, ranjang, kelamin, dlsb. kemudian penolakan soal bentuk, bukankah ini sudah selesai tak perlu dipertanyakan? dari pantun , gurindam, syair, sonnet, kemudian puisi modern, sekali lagi tentang puisi lama dan puisi baru harusnya sudah selesai

lalu tentang gaul (aku tak pernah suka dengan kata2 ini) apa yg kau maksud dengan kata2 ini? Pergi ke cafe beramai2 minum2 sampai mabuk, bertukar tangkap dengan pacar orang lain? meniduri setiap wanita yg kita kenal? aku selalu menganggap mereka2 itu orang2 yg kesepian kawan.


Comment by pakcik Ahmad 16 hours ago
Aih.. ini menjadi diskusi yang menarik. Perihal bentuk dan aturan-aturan (pakem) tradisi yang menjadi persoalan, bukanlah hal yang baru diperdebatkan. Bagi saya rima adalah asesori saja. Puisi yang saya pahami ada di badannya. Pemilihan diksi maupun imaji/simbol yang dipakai seorang penulis juga masih merupakan asesori pendukung, menurut pandangan awamku lho. Namun, kekuatan puisi adalah ketika dia dapat memberiku getar di dada (aha...macam syair lagu saja). Inilah puisi yang top markotop.. puisi yang dapat memberikan rasa nikmat di lidah bukan sekedar rasa kenyang saja, maknyuss.

Puisi kini umumnya adalah karya berbentuk teks (namun ini juga akan dapat memunculkan diskusi lain yang hangat, apakah puisi hanyalah seni terbaca atau seni pengucapan..nantilah dibahas lagi). Namun ketika teks ini kita pahami hanya sebagai benda kaku yang terlihat oleh mata yang cuma 2 ini, matilah puisi itu. Puisi pun menjadi layaknya laporan jurnalistik saja.

Beberapa penyair yang lebih senior bahkan pernah mengutak ngatik bentuk syair lama dalam baju kekinian. Pantun yang sangat tradisional dalam bentuk (metrum, bentuk -- sampiran & isi, serta rima) diadon dengan bahan-bahan masa kini. Kalau kita rajin, maka kita akan ketemu pantun berasa modern..

Bagaimana sodara-sodaraku ?


Comment by anjingkesepian 4 hours ago
Salam pak cik
Pertanyaannnya yg mendasar yg harus diajukan adalah ,apa itu puisi? Bukankah selama ini pengertian puisi itu sendiri senantiasa berubah dan selalu tidak memadai? Sebagai contoh sederhana bukankah puisi sutardji dulu banyak yg tidak mengakuinya sebagai puisi? Mana suara2 itu sekarang? Bila kemudian secara umum dikatakan bahwa setiap teks yg dimaksud puisi adalah puisi, maka konsekwensinya misal daftar belanjaan yg diberikan selingkuhan saya, saya anggap sebagai puisi maka kafilah ini akan tetap berlalu ketika orang2 menggonggong mencacinya.

Sebuah puisi kau sebut kuat bila mampu menggetarkan dada, apa itu tidak menyederhanakan ribuan ton kumpulan puisi yang tidak terjual yang tidak mampu menggetarkan dadamu karena keterbatasan keterbacaan terhadap kumpulan2 puisi tsb (baca: ketidak mampuanmu untuk menggetarkan dadamu) juga para pembaca puisi yg hanya untk gaya2an saja, sekedar pamer baca buku kumpulan puisi di depan pacar atau selingkuhan, meskipun itu buku kumpulan puisi milik penyair ternama, puisi2 tersebut tidaklah kuat karena tidak mampu menggetarkan dadadada mereka? Bila kemudian daftar belanjaan istri saya yang berisi misalkan daftar peralatan sadomasokis , semacam cemeti, sepatu boot, celana kulit, perlatan bedah: skapel blade(?), sutures with needle, dan segala macam asesoris logam dlsbnya sesuai imajinasi istri saya. Bila saya susun dalam sebuah rencana puisi yg jenius dan mampu menngetarkan orang2 yg normal yg membaca, pasti ini kau sebut sebuah puisi yg kuat ? he he

bagaimana puisi bisa berbadan? Saya tak tahu apa itu maksud mu, pak cik? Mangsudmu suasana, tema, imaji, puisi itu kah?

Bagaimana sebuah pemilihan kata adalah kau sebut asesori sebuah ornament untuk gaya2an saja? Saya pikir itu cocok untuk sebuah puisi lama saja, semacam pantun, syair yang terperkosa oleh bentuk dan aturan2 yg harus diikuti Yang saya percayai Dunia Puisi hanyalah kata kata, bermutu ataukah layu tergantung apakah ia mampu menggugah, merangsang, memperkaya pemikiran kita, memperkaya kehidupan kita


Comment by pakcik Ahmad 2 hours ago
Nah kukatakan juga apa..ini pasti menjadi diskusi yang mengasyikkan. Aku akan coba menjawab perlahan-lahan semampuku saja..

mas AK,
Pertama, tulisanku di atas adalah pendapat pribadiku. Aku sendiri adalah orang yang baru serius dalam bersastra (menikmati sastra). Perjalanan ini memberikanku banyak catatan setelah menerima pelajaran dari siapa saja yang memberikan ilmu sastra kepadaku, apalagi puisi. Hingga akhirnya sekarang aku memiliki pendapat pribadiku seperti yang kutulis di atas. Begitu juga uraian-uraianku di bawah ini...

Perihal definisi puisi...terus terang aku tidak mengetahuinya dengan definitif dan jelas. Beberapa pendapat yang kubaca dan kudengar malah lebih bersifat filosofis saja dibandingkan dengan definisi yang bersifat teknis. Salah satu yang kuingat adalah, bahwa "puisi itu sebagaimana niat penulis (penyair)nya." Lentur sekali bukan definisi ini ? Berarti ketika seseorang menyair dengan menuliskan syairnya yang dia katakan puisi, yaa itu puisi. Kesimpulanku, definisi ini berada dalam wilayah personal. Bila diperluas lagi..maka bisa saja catatan belanja istri panjenengan yang kelak beliau akui sebagai puisi, disebut puisi. Demikian pula berton-ton kumpulan puisi yang laku maupun tidak, itulah puisi. Setidaknya bagi si penyairnya. Apakah saya setuju dengan pendapat ini ? Secara peribadi pendapat ini tidak ada salahnya. Karena ini selain pendapat personal juga penamaan untuk bentuk/badan luar/wadag. Karena aku juga memahami bahwa puisi adalah makhluk (hidup ? hehehe..) maka selain bentuk kasarnya, puisi juga harus memiliki "zat gerak" yang menghidupinya, membuatnya bernafas, bercerita, memukau, menimbulkan rasa benci dst dst.. Banyak pendapat mengatakan itulah, ruh puisi. Bagiku, inilah "zat gerak" yang membuat sebuah puisi menimbulkan getar di dada. Lagi-lagi ini adalah pendapat personal. Bagiku misalnya, puisi SCB lebih banyak memberikan kebingungan dari pada getar di dadaku dibandingkan puisi-puisinya D. Zawawi Imron. Namun bagi panjenengan bisa saja tidak.

Memang kalau difikir-fikir, terlalu banyak penjelasan yang personal/pribadi untuk puisi. Menurutku ini sah-sah saja sebab kekuatan puisi ketika diperdengarkan (dengan oral maupun dibaca teksnya) adalah ketika muncul tafsiran si pembaca. Tafsiran ini pasti muncul ketika ada "zat gerak" tersebut. Dan yang pasti tidak semua orang sama.

Satu hal yang mungkin mas AK salah cerna dari respon awal saya di atas, persoalan "puisi kuat" atau tidak. Saya tidak berani mendefinisikan puisi yang kuat itu seperti apa ke publik mas.. Jadi daftar belanja istri panjenengan yang panjenengan susun sedemikian rupa hingga menggetarkan pembacanya, itu puisi (setidaknya menurut panjenengan toh..) tapi belum tentu kuat menurut saya.

O ya perihal asesori/ornamen..yaa bisa saja menurutku itu untuk gaya2an. Jika, badan utuh puisinya kelak tidak menimbulkan "getar di dadaku".

Begitu... lanjuut......


Comment by Harsandi Nugraha 15 minutes ago
wah....nambah seru nih...

Mas AK ( minjem istilah Pakcik..) sepertinya aku harus belajar banyak pada anda, terutama tentang selera humor ( sori kalau aku terlalu responsif menanggapi komenmu ) maklum saya penyair mentah yang baru nyoba2 menggerakkan hati mencari bentuk2 puisi dari yang kuno hingga sophisticated.. walaupun tetap ketertarikanku pada pemilihan kata2 yang tradisional lebih dominan ( mungkin karena latar belakang budayaku disitu.) tapi dalam hal bentuk aku tidak melulu tradisional.. menurutku berpuisi adalah perihal mencari ' feel' ....

Tak ada masalah lagi mas AK...perbedaan bukan dosa dan Gaul yang kumaksud adalah seperti ini..... berbeda faham..bertukar serapah..meniduri perasaanmu sendiri..kemudian mencari sudut dimana kita bisa minum kopi bersama sampai mabuk...dan berkata 'peace bro...

Silahkan lanjut diskusinya dengan Pakcik...( secara aku tak sehebat kalian bertukar ilmu..)

Reply to This

Replies to This Discussion

Puisi hanyalah alat ucap, kemasannya bisa berbeda-beda. Harsandi Nugraha memilih mengucap dengan gaya melayu. Apakah salah? Sutardji mengucap dengan cara seperti itu, Afrizal mengucap dengan gaya yang berbeda pula. Di mana salah mereka?

Imaji boleh diliarkan begitu rupa, tetapi jangan lupa bahwa si penyair haruslah mengetahui filosofi dari imaji yang digunakan dalam puisi. Bisa saja imaji yang sama akan punya makna yang berbeda. Lantas apakah imaji-imaji kata yang atavistik ini lantas harus dibuang jauh-jauh dari saku kita ketika menyair? Tentu tidak bukan?

Jika sebuah catatan belanja bisa punya arti dan bisa dicari makna yang lebih dari sekedar catatan belanja, maka itu pun sudah puisi.

Puisi pada awalnya hanyal puja puji dan permisalan. Jika berangkat dari pengertian ini, atavistik atau pun cosmo tak pernah jadi soalan. Soal "kemiripan dengan" itu lain soal.

Reply to This

Pak cik,
Dalam khasanah kitab suci ada yang percaya bahwa kitab suci suatu agama adalah mahluk dan pada masa tertentu itu yang dominan. Dan maafkan saya yang menahan tawa ketika hal itu tak lagi dominan.

Apa itu ruh: api yang berkobar kobar (Entah kalimat dari siapa itu?)

Bila apa yang aku katakan sebagai “yg mampu menggugah, merangsang,memperkaya kehidupan kita” apa itu yg kau sebut sebagi ruh, jiwa puisi itu? Kalau ada hal2 lain diluarnya aku akan menolaknya, pakcik kecuali kau ada sesuatu untukkku ;)

Ketika definisi dipersilakan kembali kepada pribadi masing2 ini tentu akan merepotkan, bagi guru mata pelajaran bahasa indonesia di sekolah, kayaknya kok terus perlu apa itu yang di sebut hegemoni sastra ya, semacam penjaga gawang yang mengabsahkan seseorang menjadi penyair, misal lewat redaksi koran minggu majalah sastra atau apapun yang bisa “menyaring” dan bisa “membedakan” apa itu yg disebut sampah kata kata dengan puisi yg katakanlah yg mampu menggugah, merangsang,memperkaya kehidupan kita. Lalu kita akan merindukan datangnya lagi seorang paus satra indonesia yg bisa memberikan “selembar akte ke penyairan” untuk seseorang penulis yg definisi / keindahan puisi sesuai dengan seleranya. Ya ada pingpong disini antara membutuhkan dan tidak membutuhkan

Puisi hanyalah alat ucap, kau sebut itu dedy? Saya pikir alat ucap kita bibir, gigi, lidah, apa ada sudah ada mempatenkannya menjadi puisi?  lalu bila puisi hanyalah alat ucap apakah tidak menyederhanakan puisi itu sendiri menyamakan dengan omong kosong ketika membicarakan selingkuhan2 kita(?) atau menggosipkan betapa menariknya luna maya untuk kita jadikan teman kencan misalnya? Mungkin benar jika puisi itu dibacakan, dideklamasikan, tapi bila berpulang ke pribadi (lagi?) saya percaya puisi tak lebih dari ekspresi kita melalui kata kata yg ditulis dan kita niatkan sebagai puisi dan saya pun tidak percaya harus ada filosofi disini. Pernah kubaca semacam kalimat dan saya sangat mempercayainya denganiman yg tulus “Hanya anak2 yg berumur 16 th kebawah yg percaya ada filosofi di dalam sebuah puisi” tentu saja kau jauh lebih dewasa bukan? Tetapi ini juga demokratis kok, kau boleh membuntalnya dengan sebuah senyum keterpaksaan. he he

Bila kita membandingkan bacaan semisal puisi jaman balaipustaka dengan kumpulan puisi yg paling anyar, apa yang kau rasakan dedy? Baiklah itu maumu terserahlah, tetapi saya menciumAroma baru dari sebuah puisi mutakhir, sebuah aroma kebebasan!

Kita harusnya juga melupakan asal usul puisi itu sendiri, entah itu dari segala macam puja puji atau pemisalan dan semacamnya. Itu sama sekali tak berbicara disini, ketika kita bebas membaca menulis menguplad katakanlah apa yg kita tulis dan mengakuinya sebagai puisi itu ke dalam blog kita misalnya, rasanya tak ada masalah, tanpa tahu apakah itu puisi atau sekedar kata jadi jadian (hii..)

Dan maaf bila koment ini melompat2, karena alasan yg bersifat pribadi dan menyangkut hajat hidup saya sendiri he he

Reply to This

yang saya tangkap, anda sedang berusaha mendefinisikan apa itu puisi. jika anda menganggap puisi itu harus memenuhi nilai kebaruan, bahkan aroma kebebasan, itu akan kembali lagi pada definisi puisi yang anda anut. betul begitu?

jika kita mau membicarakan puisi, maka kita tidak bisa melupakan apa itu puisi di masa lalu, di masa para pujangga, dan di masa kini. dan intinya adalah ucapan.

seperti kata "pun" yang keluar dari mulut seorang penyair lantas bisa dianggap puisi. itulah makna ucapan yang saya maksud. Lalu bagaimana berucap? dalam hal ini puisi itu juga yang dimaksud.

mau kata-katanya atavistik, atau modern sekalipun, jika pembaca bisa menangkap esensi (tentu saja versi mereka sendiri) berarti itu sudah puisi.

pertanyaan terakhir, apa hubungannya puisi dengan hajat hidup anda? Jika saya boleh jawab : tidak ada!

Reply to This

Mas AK,
Demikianlah yang ada di sakuku. Dalam kondisi masih mencari bentuk dan belajar aku belum berani mengutarakan sebuah statementku, semacam kredo kali ya.., karena itu berarti aku harus memegang komitmen untuk mempertahankannya sampai waktu tertentu.

Itu pula sebabnya kukatakan definisi-definisi tersebut masih bersifat personal, bagiku.

Setuju aku dengan perihal ruh puisi darimu itu mas.. bukankah itu akibat kau, aku 'mendengar' falsafah dari puisi yang kita baca ? Bukan hanya kemolekan teksnya saja ?

lanjuutkan

Reply to This

wah wah wah ... kalian kalau sudah ngomong jadi macam begini

mungkin bagi ku menulis puisi dengan gaya yang masih terpengaruh jaman yang sudahsudah, merupakan bentuk ataupun cara ku belajar berterimakasih kepada para pendahulu (pelopor), sebelum kemudian aku belajar bersyukur bahwa pada saat sekarang aku bisa membaca lalu mungkin menikmati bahkan kemudian menuliskan sesuatu yang mungkin telah bisa dianggap sebagai PUISI.

HN ,PA,DTR dan AK begini,
kini aku menulis dengan semangat pemBelajaran untuk Tidak Lagi berkeInginan agar mengandung filosofi, ruh, nyawa atau apapun dan Tidak Lagi berHarap mempunyai bentuk dan kemasan tertentu.
namun bila mereka yang membaca kemudian menemukan sesuatu apapun itu, bagiku telah menjadi rejeki bagi mereka masingmasing ( tulisantulisan ku dan para pembacanya tentu) yang telah saling sua, saling menemukan satu sama lain.

nah tentang seberapa besar pengaruh tulisan kepada berapa banyak orang ataupun manusia memang tergantung kondisi para pembacanya (pada kesadaran tertentu, singgah pada terminal mana, selera/kesukaan, kolektifitas wacana, kejujuran ataupun kepurapuraan yang dikandungnya)

tapi apakah memang demikian tujuan dari penulisan "puisi" aku kembalikan lagi kepada kalian para pecinta tulisan ataupun tulisan yang dibacakan

senyum ku kepada kalian semua sebagaimana pula kepada buluangsa
dari jenis yang terbaik tentunya, dan yang masih ku punya

Reply to This

*o ow..kenapa ada buluangsa di sini. :D *
karena sedemikian hangatnya diskusi ini, mungkin menarik sekali utk dibahas lebih lanjut? bagaimana kalau kita bersama-sama ikut dalam kelas puisi yang tema kali ini adalah : "Mengapresiasi Puisi". narasumbernya om Hasan Aspahani. dan tidak menutup kemungkinan utk membuka diskusi, tentunya dalam suasana kelas yang tenang ya ;) *ini sekalian promosi kelaspuisi euy!. hihihi..*

terimakasih, bapak-bapak..silahkan lanjut.

Reply to This

Saya berusaha percaya pada takdir yg mencoba membuat garis pemisah antara Indonesia dan pre Indonesia. Demikian juga dalam puisi yg saya imajinasikan, saya ingin mendekap aroma masa depan : kebebasan itu tanpa perlu mengkais kais apa yg dulu pernah jaya. Kunci utama adalah kebebasan dalam arti bebas untuk bebas. Tidak bebas untuk mengikatkan diri pada masa lalu. Meskipun bila ada katakanlah “darah pantun, darah syair, darah macapat” misalnya, itu melesak dalam sebuah puisi mautakhir, saya akan berkata lantang bahwa itu adalah puisi modern dengan catatan kita(?) tidak berusaha untuk “memberikan nyawa” pada yg lalu2. tetapi bilapun masih ada yg ngotot menyebut puisi mutakhir yg ada misalnya terselip “aroma masa lalu itu” itu dengan sebutan pantun ataupun syair, anjingkesepian ini bisa apa?

Dalam sebuah warung, pembicaraan akan bebas akan mengembara tanpa sesuai dengan rencana awal. Dan disini , warung puisi kita pun bisa kelayaban dengan pembicaraan diri kita sendiri dan mengacuhkan yg lain lain, bukan? Bahkan mungkin yg lebih urgent semisal “bagaimana cara memperlakukan luna maya bila menjadi pacar saya?”

Saya tidak ingin mendefinisikan sebuah puisi, sekali lagi tidak. Kembali pada awal perbincangan ini saya hanya mengatakan bahwa seorang penyair (penulis puisi) harus memberontak terhadap karya2 pendahulunya. Bagi saya akan berasa seperti melacurkan diri bila seseorang menulis dengan gaya puisi lama ataupun gaya penulisan penyair yang di kagumi, siapapun itu. Saya percaya akan kejujuran baik di puisi maupun di kehidupan.
Dan saya pikir seseorang yng menulis dengan gaya ataupun apalah sebutannya dengan puisi puisi lama ada sedikit ketidak jujuran disitu. Ketika kita menatap bumi , menatap langit yg begitu luasnya.

Bila dedy kemudian percaya bahwa puisi adalah ucapan, maka saya ingin sedikit bertanya: dari mana kau peroleh puisi2 masa lalu? Puisi2 katakankah semisal puisi2 pada th 1980 kebawah? Apakah dirimu bias berbincang dengan arwah2 dan pujilah tuhan seru sekalian alam, tak ada selama ini saya menjumpai kaset, cd, mp3 antologi penyair, yg diajarkan dalam mata pelajaran bahasa dan sastra di sekolah2

Mungkin saya akan sedikit mengimani puisi sebagai “mahluk” yang bisa berkembang, mencanggihkan diri sendiri, mengsopisticatedkan(?) atau bahkan mempandirkan, membegokan, meng slb kan dirinya sendiri sesuai “tuntutan jaman”nya.
Bagi saya yg percaya puisi hanyalah permaianan, semisal hari ini apa yg ingin engkau perankan? Menjadi nabi? Atau menjadi kanak2 abadi? Bebas saja karena iman saya pada puisi hanya ada dimulut saja dan itu membuatku bangga akan karenanya.

Dedy, tanpa ada esensi yg dapat kita tangkap (berusaha maupun tidak) puisi tetaplah puisi. Sejarah sastra telah mencatat puisi2 main main, puisi ngeyel, tanpa isi dan kedalaman, sekedar membuat senyum saja. Dan sejarah mencatatnya dan itu di ajarkan di sekolah2 kalau kau tidak lupa

Pada kurniawan yang percaya “pengarang telah mati” saya juga ada dijejak jalannya. Penyair telah mampus dan teks hanya teks lah yg berbicara pada kita, kecuali bilamana ada teknologi dimasa depan yg bisa mengunduh pikiran kita dan dan memproyeksikannya dalam hologram, sehingga kita bisa berbincang2 mengenai ciptaannya. Tapi saya pikir hal itu masih jauh dan sayup2

Dan saya mamaki anjing pada listrik yg byar pet ini…

Dan pada puisi yg saya percayai bahwa sebagai “yg mampu menggugah, merangsang,memperkaya kehidupan “ dan itulah hajad saya untuk membaca puisi baik dikutuk maupun tidak..

Reply to This

"Ucapan" yang saya maksud tidak secara literal pastinya ...
karena puisi (lagi-lagi dalam sejarahnya) ada pada tatanan seni sastra, jadi bentuknya ada yang tertulis dan ada juga yang sastra lisan.

Agak kontradiktif ketika Anda mengungkap " puisi tetaplah puisi" dan kepercayaan Anda bahwa puisi "harus mampu menggugah, merangsang, memperkaya kehidupan" sekaligus pada ungkapan Anda yang lain "puisi seperti mahluk yang harus berkembang" yang mana hal-hal demikian seakan-akan Anda sedang mendefinisikan apa itu puisi menurut Anda. Jika digabungkan maka akan lahir definisi puisi menurut Anda yaitu : "Puisi adalah sesuatu yang mampu menggugah, merangsang dan memperkaya kehidupan, juga mengalami perkembangan sesuai jamannya. Puisi juga harus ditulis oleh para penyair yang memberontak pada pendahulu maupun jamannya itu sendiri."


Saya yakin dan percaya "puisi adalah puisi". Di mana dari dulu sampai sekarang adalah "perlambang" dari apa yang dirasakan, direnungkan, atau ingin diucapkan oleh penyairnya. Hingga dalam gaya bahasa apatah kuno ataukah baru tetap harus bisa dinikmati sebagai puisi.

Dengan demikian, tidak dikenal adanya puisi lama, baru, atau yang akan datang. Tetapi memang ada semacam aturan tidak tertulis bahwa penyair harus mampu melampaui jamannya ketika menulis. Hal ini sesuatu yang tidak hanya dalam puisi saja, tetapi juga berlaku umum di bidang-bidang lain seperti ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena penyair identik dengan seorang pencipta.

Salam,

Reply to This

Sori sdr dedy saya tidak mendefinisikan puisi sedemikian yang sdr gabung dari koment2 saya karena hal itu toh akan membatasi “perkembanganbiakan” kehidupan puisi yang saya imajinasikan. Bila toh itu menjadi konsep untk puisimu kemudian2 hari okelah itu definisimu sendiri tentang puisi.

(puisi sebagai “mahluk” yang bisa berkembang, mencanggihkan diri sendiri, mengsopisticatedkan(?) atau bahkan mempandirkan, membegokan, meng slb kan dirinya sendiri sesuai “tuntutan jaman”nya. )

maksud saya bukan bukan dalam tataran “definisi”tetapi “pemberontakan” terhadap jamannya

Ketika misalnya saya akan menulis puisi saya akan menanggalkan “baju baju saya”
Dan “telanjang bersamanya” mungkin “menggelandang” mungkin juga tidak . tapi saya tidak ingin menulis puisi di sini apalagi memamerkan ketidak pintaran saya. ;)

Sudah saya singgung di koment terdahulu, pembicaraan ini adalah pembicaraan di warung sehingga ada point2 yg perlu dibicarakan malah terabaikan dan diacuhkan. Orang2 yg berbincang ingin membuka mulutnya sendiri2 sesuai “pikiran” yg ada pada nya.

bagi saya cukup membuat tertawa bila kau kata tak ada puisi lama atau baru, sementara dilihat dari kosakata lama saja, banyak yg mampus. Dan terakhir sebelum saya sudahi ini koment unt selanjut2nya, tanpa ada pemberontakan di dalam penulisan puisi (penyair) tak adanya gunanya puisi di tulis lagi (bagi penyairnya)


salam
hehe

Reply to This

semakin tidak jelas. yang anda coba bahas itu "puisi" atau "kata"? Sejujurnya, tidak ada kata yang "mampus" (itu bahasa anda) yang ada adalah kecenderungan orang untuk tidak menggunakannya lagi.

Bahasa latin sekali pun, yang sudah dianggap "mati" dan tidak berkembang, masih digunakan orang untuk keperluan ilmiah dan agama (katholik terutama).

puisi-puisi pujangga baru masih bisa dibaca dan dimaknai dengan baik, sebagai mana puisi chairil anwar yang didengungkan telah melampaui jamannya bahkan konon masih relevan, buktinya ada puisinya digunakan untuk kampanye profil tokoh politik. Itu yang saya kamsud eh maksud kan ..puisi tidak pernah usang, tidak pernah mati. hanya Anda saja yang tidak mau lagi menikmatinya.

Salam,

(saya lebih terbahak membaca posting Anda)
Kangmas AK... saya begitu terpesona oleh uraian keteguhan sampeyan tentang puisi masa depan yang penuh kebebasan dan tentang puisi 'main-main' masa lalu yang yang tidak perlu lagi kita ikatkan pada puisi modern walaupun darahnya masih mengalir jelas pada puisi-puisi masa kini ( yang penuh pemberontakan). Mengenai darah2 puisi lama yang masih mengalir anda jelaskan itu adalah catatan puisi modern kita...tanpa 'memberikan nyawa' pada masa lalu...ini yang membuat saya lebih terpesona...apa tidak seperti Malin Kundang yang mengaku tak punya ibu..? atau mungkin puisi modern yang Kangmas AK mangsudke tidak punya akar...Bolehlah perkembangan harus membawa perubahan, namun apakah perubahan itu sama sekali tidak dialiri oleh darah2 pendahulunya.

Kangmas AK sangat percaya pada kejujuran dalam puisi dan dalam kehidupan, namun uraian panjang lebar tidak terlalu menjelaskan kejujuran itu , diatas anda akui bahwa ada darah puisi lama yang mengalir pada puisi modern sebagai catatan kita penganut puisi modern yang penuh pemberontakan dan sangat nista bila kita membuat puisi dengan mengambil gaya lama atau gaya penyair pujaan kita bagaikan melacurkan diri... apakah itu bentuk kejujuran atau ketertutupan ( atau keterbukaan ) mata sampeyan terhadap apa yang mendasari puisi modern anda....ini pendapat ya kangmas AK ..jadi yang jujur itu yang mana tidak jelas apakah sampeyan yang tak menjelaskan panjang lebar tentang kebebasan puisi tanpa memberikan nyawa pada masa lalu atau orang2 yang masih suka mengingat akarnya pendahulunya, ibunya atau orang yang dikaguminya...dan terus mencanggihkan diri ( bebas juga kan namanya ) .... tapi terserahlah ini warung kok.... semua orang bebas bicara apa saja, yang penting habis selesai ngopi dan ngobrol ngalor ngidul mbayar sama yang punya warung....

Merdeka....

Reply to This

hehehe.... seru.. seru... lanjuuuttt..... (aku nonton aja sambil udut)

Reply to This

  • 1
  • 2

RSS

About Warung Puisi

PaparanKata PaparanKata created this social network on Ning.

Create your own social network!

Ruang Kelas Warung Puisi

Halo teman² warpus,
Ayoooo..siapa yang mau belajar mengapresiasi puisi..Yuk ikutan aja kelas puisi, yang akan diadakan:

Hari/tanggal: Selasa/29 Juli 2008
Waktu : 15:00 WIB
Narasumber : Hasan Aspahani (lagi? iya doongg ;) )
Tempat : ruang kelas yahoo!conference


Saya akan mengundang teman² sekalian pada saat kelas akan dibuka. Bagi yang ingin ikutan, silahkan menambahkan namaku dalam list YM mu. ID-ku penabuluangsa@yahoo.com.

nb:
Kelas ini terbatas hanya untuk member warungpuisi.ning dan warung-puisi@yahoogroups. Mohon untuk tidak mengundang pihak di luar komunitas tsb, demi tercapainya efektifitas pembelajaran.

Terimakasih.

salampuisi,
milla

© 2008   Created by PaparanKata on Ning.   Create your own social network

Report an Issue  |  Feedback  |  Privacy  |  Terms of Service