ARUNG
: Rahmalia
pelayaran ini disahihkan matahari
kepak-kepak camar bermain sinar
terik ikat-mengikat demi hati
seusai ikrar yang tak bisa ditakar
tak adapun reruntuhan ombak sebagai aral
dan palung-palung adalah syair laluan niat
dimana tembang kedalaman tak pernah disangkal
kemudi menyanyikannya dalam hakikat
kemudian badai, temaramkah mendungnya ?
bila kita memainkan dawai-dawai angin
sembari bersiul lagu cinta yang gempita
lalu senyawa peluk menghambarkan dingin
jauh, lautan sudah terduga
nusa-nusa singgahan kita puisikan
dalam biduk marwah yang terjaga
hingga di tepian ikhlas sauh kita tambatkan
Banda Aceh, 1707 ‘08
Diatas adalah sebuah puisi yang di posting oleh Harsandi Nugraha, yang kemudian tanggapan yang diberikan oleh anjingkesepian memulai sebuah diskusi menarik, oleh karena itu saya mencoba untuk memindahkan diskusi yang terjadi di blog nya Harsandi Nugraha ke Forum ini. Oke dibawah ini adalah diskusi yang berkembang, dan silahkan dilanjutkan disini:
Comment by anjingkesepian on July 18, 2008 at 4:42pm
tradisional banget yah(dalam arti negatip yeah), bentuknya masih 4 baris dalam satu bait trus persajakan masih ab ab gitu, pilihan kata masih menggunakan kata2 yg biasa digunakan puisi lawas ada semacam pelayaran, kepak camar, ombak, badai, mendung,biduk, nusa,dll. yang jadi pertanyaan: mana itu pemberontakan seorang penyair? yang konon selalu melakukan pemberontakan terhadap karya2 terdahulu? mampuskah kau harsandi? ye ye yeah he he
Comment by Harsandi Nugraha 1 day ago
Saya memang suka yang tradisional kawan....namun dari bentuk tradisional inilah kita berasal ...apa yang ada dalam khasanah puisi sekarang berasal dari yang dirintis oleh para pendahulu kita dulu, apa salah kita mengulang kaji kembali...? , terus mengapa harus selalu ada pemberontakan pada seorang penyair masa kini...? coba anda jelaskan dengan definisi yang sederhana saja pemberontakan mana yang sering dilakukan pada penyair sekarang, kalau menurut saya, bukan pemberontakan tapi pengayaan bentuk puisi... dan semuanya mengacu pada bentuk2 lama dari sebuah puisi. Mungkin andalah yang bisa mengajarkan pada kita2 tentang hal itu. Thanks kritiknya, jangan sering kesepian dong...
Comment by anjingkesepian 1 day ago
he he
sekilas info saja saya selalu mencoba menulis dengan spirit humor, kawan(tapi ah kau bukan temanku kan?) atau komentku ada kau rasa menggurui mu, aih maafkan aku? kugelar gerimis ini untukmu. atau ini dapat kita baca kita beda budaya kau atjeh dan aku jawa? "wah terlalu sedikit ini tempat unt pelajaran sejarah dan mengarang kawan" ;) kalau kau suka dengan bentuk2 syair ya sudahlah masalah selera tak bisa kita ributkan, dan selesai tak ada masalah bukan?
masalah pemberontakan (penolakan konvensi keindahan katakanlah begitu) bila tak dipunyai seorang penyair kiamatlah kita(?) puisi2 akan selalu dan senantiasa seragam itu yg saya maksud, seorang penyair harus mempunyai ciri khusus yg membedakan atau setidak2nya pemilihan kata2nya saja. Misalkan ada penyair yg suka dengan hal2 sepele seperti celana, sarung, telefon, sepeda, pacar, dsbnya ada juga yg suka mengekplotir selangkangan, ranjang, kelamin, dlsb. kemudian penolakan soal bentuk, bukankah ini sudah selesai tak perlu dipertanyakan? dari pantun , gurindam, syair, sonnet, kemudian puisi modern, sekali lagi tentang puisi lama dan puisi baru harusnya sudah selesai
lalu tentang gaul (aku tak pernah suka dengan kata2 ini) apa yg kau maksud dengan kata2 ini? Pergi ke cafe beramai2 minum2 sampai mabuk, bertukar tangkap dengan pacar orang lain? meniduri setiap wanita yg kita kenal? aku selalu menganggap mereka2 itu orang2 yg kesepian kawan.
Comment by pakcik Ahmad 16 hours ago
Aih.. ini menjadi diskusi yang menarik. Perihal bentuk dan aturan-aturan (pakem) tradisi yang menjadi persoalan, bukanlah hal yang baru diperdebatkan. Bagi saya rima adalah asesori saja. Puisi yang saya pahami ada di badannya. Pemilihan diksi maupun imaji/simbol yang dipakai seorang penulis juga masih merupakan asesori pendukung, menurut pandangan awamku lho. Namun, kekuatan puisi adalah ketika dia dapat memberiku getar di dada (aha...macam syair lagu saja). Inilah puisi yang top markotop.. puisi yang dapat memberikan rasa nikmat di lidah bukan sekedar rasa kenyang saja, maknyuss.
Puisi kini umumnya adalah karya berbentuk teks (namun ini juga akan dapat memunculkan diskusi lain yang hangat, apakah puisi hanyalah seni terbaca atau seni pengucapan..nantilah dibahas lagi). Namun ketika teks ini kita pahami hanya sebagai benda kaku yang terlihat oleh mata yang cuma 2 ini, matilah puisi itu. Puisi pun menjadi layaknya laporan jurnalistik saja.
Beberapa penyair yang lebih senior bahkan pernah mengutak ngatik bentuk syair lama dalam baju kekinian. Pantun yang sangat tradisional dalam bentuk (metrum, bentuk -- sampiran & isi, serta rima) diadon dengan bahan-bahan masa kini. Kalau kita rajin, maka kita akan ketemu pantun berasa modern..
Bagaimana sodara-sodaraku ?
Comment by anjingkesepian 4 hours ago
Salam pak cik
Pertanyaannnya yg mendasar yg harus diajukan adalah ,apa itu puisi? Bukankah selama ini pengertian puisi itu sendiri senantiasa berubah dan selalu tidak memadai? Sebagai contoh sederhana bukankah puisi sutardji dulu banyak yg tidak mengakuinya sebagai puisi? Mana suara2 itu sekarang? Bila kemudian secara umum dikatakan bahwa setiap teks yg dimaksud puisi adalah puisi, maka konsekwensinya misal daftar belanjaan yg diberikan selingkuhan saya, saya anggap sebagai puisi maka kafilah ini akan tetap berlalu ketika orang2 menggonggong mencacinya.
Sebuah puisi kau sebut kuat bila mampu menggetarkan dada, apa itu tidak menyederhanakan ribuan ton kumpulan puisi yang tidak terjual yang tidak mampu menggetarkan dadamu karena keterbatasan keterbacaan terhadap kumpulan2 puisi tsb (baca: ketidak mampuanmu untuk menggetarkan dadamu) juga para pembaca puisi yg hanya untk gaya2an saja, sekedar pamer baca buku kumpulan puisi di depan pacar atau selingkuhan, meskipun itu buku kumpulan puisi milik penyair ternama, puisi2 tersebut tidaklah kuat karena tidak mampu menggetarkan dadadada mereka? Bila kemudian daftar belanjaan istri saya yang berisi misalkan daftar peralatan sadomasokis , semacam cemeti, sepatu boot, celana kulit, perlatan bedah: skapel blade(?), sutures with needle, dan segala macam asesoris logam dlsbnya sesuai imajinasi istri saya. Bila saya susun dalam sebuah rencana puisi yg jenius dan mampu menngetarkan orang2 yg normal yg membaca, pasti ini kau sebut sebuah puisi yg kuat ? he he
bagaimana puisi bisa berbadan? Saya tak tahu apa itu maksud mu, pak cik? Mangsudmu suasana, tema, imaji, puisi itu kah?
Bagaimana sebuah pemilihan kata adalah kau sebut asesori sebuah ornament untuk gaya2an saja? Saya pikir itu cocok untuk sebuah puisi lama saja, semacam pantun, syair yang terperkosa oleh bentuk dan aturan2 yg harus diikuti Yang saya percayai Dunia Puisi hanyalah kata kata, bermutu ataukah layu tergantung apakah ia mampu menggugah, merangsang, memperkaya pemikiran kita, memperkaya kehidupan kita
Comment by pakcik Ahmad 2 hours ago
Nah kukatakan juga apa..ini pasti menjadi diskusi yang mengasyikkan. Aku akan coba menjawab perlahan-lahan semampuku saja..
mas AK,
Pertama, tulisanku di atas adalah pendapat pribadiku. Aku sendiri adalah orang yang baru serius dalam bersastra (menikmati sastra). Perjalanan ini memberikanku banyak catatan setelah menerima pelajaran dari siapa saja yang memberikan ilmu sastra kepadaku, apalagi puisi. Hingga akhirnya sekarang aku memiliki pendapat pribadiku seperti yang kutulis di atas. Begitu juga uraian-uraianku di bawah ini...
Perihal definisi puisi...terus terang aku tidak mengetahuinya dengan definitif dan jelas. Beberapa pendapat yang kubaca dan kudengar malah lebih bersifat filosofis saja dibandingkan dengan definisi yang bersifat teknis. Salah satu yang kuingat adalah, bahwa "puisi itu sebagaimana niat penulis (penyair)nya." Lentur sekali bukan definisi ini ? Berarti ketika seseorang menyair dengan menuliskan syairnya yang dia katakan puisi, yaa itu puisi. Kesimpulanku, definisi ini berada dalam wilayah personal. Bila diperluas lagi..maka bisa saja catatan belanja istri panjenengan yang kelak beliau akui sebagai puisi, disebut puisi. Demikian pula berton-ton kumpulan puisi yang laku maupun tidak, itulah puisi. Setidaknya bagi si penyairnya. Apakah saya setuju dengan pendapat ini ? Secara peribadi pendapat ini tidak ada salahnya. Karena ini selain pendapat personal juga penamaan untuk bentuk/badan luar/wadag. Karena aku juga memahami bahwa puisi adalah makhluk (hidup ? hehehe..) maka selain bentuk kasarnya, puisi juga harus memiliki "zat gerak" yang menghidupinya, membuatnya bernafas, bercerita, memukau, menimbulkan rasa benci dst dst.. Banyak pendapat mengatakan itulah, ruh puisi. Bagiku, inilah "zat gerak" yang membuat sebuah puisi menimbulkan getar di dada. Lagi-lagi ini adalah pendapat personal. Bagiku misalnya, puisi SCB lebih banyak memberikan kebingungan dari pada getar di dadaku dibandingkan puisi-puisinya D. Zawawi Imron. Namun bagi panjenengan bisa saja tidak.
Memang kalau difikir-fikir, terlalu banyak penjelasan yang personal/pribadi untuk puisi. Menurutku ini sah-sah saja sebab kekuatan puisi ketika diperdengarkan (dengan oral maupun dibaca teksnya) adalah ketika muncul tafsiran si pembaca. Tafsiran ini pasti muncul ketika ada "zat gerak" tersebut. Dan yang pasti tidak semua orang sama.
Satu hal yang mungkin mas AK salah cerna dari respon awal saya di atas, persoalan "puisi kuat" atau tidak. Saya tidak berani mendefinisikan puisi yang kuat itu seperti apa ke publik mas.. Jadi daftar belanja istri panjenengan yang panjenengan susun sedemikian rupa hingga menggetarkan pembacanya, itu puisi (setidaknya menurut panjenengan toh..) tapi belum tentu kuat menurut saya.
O ya perihal asesori/ornamen..yaa bisa saja menurutku itu untuk gaya2an. Jika, badan utuh puisinya kelak tidak menimbulkan "getar di dadaku".
Begitu... lanjuut......
Comment by Harsandi Nugraha 15 minutes ago
wah....nambah seru nih...
Mas AK ( minjem istilah Pakcik..) sepertinya aku harus belajar banyak pada anda, terutama tentang selera humor ( sori kalau aku terlalu responsif menanggapi komenmu ) maklum saya penyair mentah yang baru nyoba2 menggerakkan hati mencari bentuk2 puisi dari yang kuno hingga sophisticated.. walaupun tetap ketertarikanku pada pemilihan kata2 yang tradisional lebih dominan ( mungkin karena latar belakang budayaku disitu.) tapi dalam hal bentuk aku tidak melulu tradisional.. menurutku berpuisi adalah perihal mencari ' feel' ....
Tak ada masalah lagi mas AK...perbedaan bukan dosa dan Gaul yang kumaksud adalah seperti ini..... berbeda faham..bertukar serapah..meniduri perasaanmu sendiri..kemudian mencari sudut dimana kita bisa minum kopi bersama sampai mabuk...dan berkata 'peace bro...
Silahkan lanjut diskusinya dengan Pakcik...( secara aku tak sehebat kalian bertukar ilmu..)