Warung Puisi

TSP

TSP's Blog (28)

Bersepeda

kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. kiri dan kanan bergantian, sesekali berjeda. semakin laju sepeda kami semakin kami tak tahu ke mana kami menuju. kami hanya sepasang kaki, bukan pemegang kendali. yang kami tahu hanya membuat sepeda kami lancar meluncur maju. kadang kami membawa penumpang, sebongkah pantat, sekarung kentang, atau bebek calon santapan yang dipadatkan dalam keranjang. kalau kami boleh memilih, kami lebih suka membawa telur. kami bahagia membayangkan telur itu k… Continue

Added by TSP on June 13, 2008 at 2:41pm — 1 Comment

Regol

kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak melulu dikungkung sepi. kami ingin beranda kami hangat oleh sukaduka yang datang dan pergi. kami ingin belajar tak takut pada pencuri, sebab bila siap berbagi, takkan ada yang bisa direbut lagi. kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak merasa terkurung. kami menetas sebagai burung, rumah kami teranyam dari jerami kering dan serat-serat cinta yang kami pintal, kami gelung. lalu kami terbang dan pulang setiap kali, tanpa p… Continue

Added by TSP on April 10, 2008 at 12:38pm — 1 Comment

Cellar

kami sering berlindung di bawah lantai rumah. tak ada barel anggur atau aroma ragi yang menua. kami hanya perindu ruang kubur, tempat musim dan peluh mengasam, mengabur. o salju yang jauh, beku yang jenuh. kami rindu dingin yang memadamkan tungku-tungku, badai yang menumbangkan tugu-tugu batu. di bawah lantai rumah, kami ternakkan sejuk kristal salju dan pusar angin rindu. lalu jadilah alasan kami saling berpeluk, berpeluh di dada kekasih, membuang ragu, memanen hangat sembari menghitung tasbih… Continue

Added by TSP on March 31, 2008 at 1:55pm — No Comments

Tibet

di ketinggian gunung kami, puncak-puncak membeku oleh rahasia mandala. kitab-kitab kami yang tua, setua semesta yang tercatat dalam peta astrologi dan skema gemintang saat kelahiran dan kematian kami ditentukan, telah berdebu oleh tanah kami yang kian gersang oleh panas angkara, kian merah oleh peluru-peluru yang jatuh basah. kami lupa betapa wangi udara yang pernah kami hirup kini pergi ke mana entah. betapa denting melodi dari embun dan kristal salju yang jatuh yang pernah membimbing kami meni… Continue

Added by TSP on March 27, 2008 at 3:00pm — No Comments

Musala

bacalah kami sebagai angka satu. atau huruf alif dalam alifbata-mu, alfabeta yang juga tertulis di kitab-kitab dalam rak pustaka kami. di kamar ini kami menggelar tikar tebal dan secarik harapan. lalu di atasnya kami dudukkan dunia kami sehari-hari. lalu kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir kami yang saling berpagut ini, merunut sesuluran yang tak lagi jelas pucuk dan pokoknya. bagi kami tak lagi penting, sebab di negeri kami setiap puisi adalah hiperlink ke jendela manapun kami berpaling.… Continue

Added by TSP on March 18, 2008 at 1:54pm — 6 Comments

Tangga

satu. kami membiasakan melangkahkan kaki kanan. ini perjalanan yang bisa panjang. kami menengadah sebab lantai kayu di atas itu telah menunggu. dua. kami melangkah lagi, dengan kaki kiri. dan di antara pijak satu dan dua, kami mencoba menghafal doa. lalu tiga. kami bayangkan sungai seribu rupa, di suatu lembah, di surga. empat. lihatlah, betapa banyak yang harus diingat. dan dalam putaran yang begini padat, mana sempat kami berpindah tempat? lima. di telapak kaki yang kanan kini, kami teringat… Continue

Added by TSP on March 14, 2008 at 7:25pm — No Comments

Dapur

bayangkan kami di depan kompor menyala. dalam didih minyak kami masak seekor bawal. aroma ketumbar dan bawang menguar begitu tebal. seakan menabalkan perjalanan kami meniti jembatan ini, yang gantung dan goyang oleh angin nakal. di depan kompor kami bertaruh nasib dengan seekor bawal, di titian kami berjuang agar pijak tak gawal. di meja kami menumbuk cabe dalam lumpang batu. seperti kami kerjakan setiap waktu dengan bebijian kenang yang tajam seperti picing matamu. kami terus menumbuk cabe it… Continue

Added by TSP on March 13, 2008 at 2:05pm — No Comments

Loteng

kami berharap punya kamar di kolong atap dengan tingkap cahaya tempat kami menjala senja. berlantai papan, berdinding papan. di sana akan kami simpan setiap catatan yang tak ingin kami ungkapkan. di sana kami simpan kebenaran di atas kanvas, lalu kami tutupi dengan warna, dengan olesan pisau dempul, dengan kibasan kuas. lalu kamu akan melihatnya sebagai hiasan dinding, sedangkan kami mengingatnya sebagai badai puting. di setiap musim kami akan menggantung jagung kering di para-paranya. persedia… Continue

Added by TSP on March 13, 2008 at 2:03pm — No Comments

Beranda

-- kepada Hasan Aspahani 1. di sini mungkin kita perlu singgah sejenak sebelum lewat pintu itu yang telah jutaan kali kita masuki. riuhnya jalanan dan pasar kota masih melekatkan debu ke kerah bajumu, ke lidah sepatuku. perniagaan yang tak pernah sudah, perselingkuhan dengan keringat dan lelah. katakanlah sekali lagi: bersungguhkah kita di jalan ini? 2. kami terlalu sering menjamu tamu di teras rumah dengan basa-basi, terlalu jarang dengan puisi. negeri kami begitu penuh dengan fiksi,… Continue

Added by TSP on March 9, 2008 at 12:00am — No Comments

Arkade

di bawah lengkung tudung ini kami bersaksi tentang telapak kaki yang bergegas. dan ribuan mata yang menembakkan kata-kata. kami berjalan lekas. abai pada bising ratap dari gentar dada, menggetar sepanjang dinding-dinding kaca yang bosan memajang gairah dan basa-basi. kami berjalan lekas. memburu senja sebelum hilang lagi dari bidikan kami. di ujung lurung bertudung lengkung ini, kami berharap masih sempat memanah matahari. sebelum senja. lalu kami akan segera pulang. ke kampung tempat kami berl… Continue

Added by TSP on March 8, 2008 at 1:21am — No Comments

Bovenlicht

dari lubang itulah kami mengenal berkas cahaya. aksara pertama dalam alfabet cinta. darinya kami belajar menyusun kata-kata, ketika dari lubang kaca itu membayang ujud kami paling mula. dari lubang itu pula kami mencuri hangat mentari, juga selimut kabut saat hari membeku di jantung ibu. pada setiap dinding di jantung kami kini. terpasang celah tempat kami menjebak matahari. agar bisa kami curi ke kamar kami dan mengurungnya abadi. sebab di luar rumah kami, begitu banyak nyala mentari. menyala… Continue

Added by TSP on March 8, 2008 at 12:48am — No Comments

Jendela

kami belajar menyapa angin dan matahari dan kicau burung-burung pagi. kami belajar bahasa daun jendela, daun bambu ori dan pohon so di pekarangan. kami belajar mengeja larik cahaya dari celah ventilasi, membaca dongeng sebangun tidur dalam secangkir kopi. selamat datang di negeri kami. di sinilah asal mula senyuman dan tangis, ditemukan oleh seorang penyair fakir dalam singgah kembaranya. di sini kami menanam biji tawa dan airmata, lalu menjualnya sebagai hasil bumi ke negeri tetangga. di neger… Continue

Added by TSP on March 5, 2008 at 7:38am — No Comments

Selasar

sepanjang lorong kita berbincang tentang pohon rambutan dan rumah, tentang hujan dan harga sejengkal tanah. kita berbincang tentang hati dan semua yang tak kita miliki. kita bicara tentang pijat refleksi dan cara langsing lewat meditasi, tentang dunia kanak yang lucu dan masa depan yang sangsi. kekasihku, selasar ini cukup panjang untuk memajang lukisan-lukisan kita pada kanvas waktu, aroma warna dari getar mantra di telapak tanganmu. bahkan tiap petak ubin kelabu seakan menjelma, jadi bingkai… Continue

Added by TSP on March 4, 2008 at 10:30am — 1 Comment

Gelagar

gelagar itu membentang dari ubun kepala ke ujung utara di mana puncak kalderamu masih menyala. gelagar itu menjadi jembatan antara mimpi-mimpi jalang dan totem batu yang menjulang. gelagar itu seakan menyatukan celah bumi tersebab gegar. gelagar itu, bermula tugu yang tumbang. bumi gemar gemetar, kami berpeluk gentar. gelagar itu. membentang dari malam tertinggi hingga siang benderang. sebagai horizon yang kami tapaki. hati-hati. bagai subuh mengendap mengupas matahari, kami lipat tabir matahat… Continue

Added by TSP on March 3, 2008 at 6:01am — No Comments

Ruang Kosong

gema yang memantul itu. bukan dari tumit sepatumu. aku terpaku. di ruang ini hanya ada aku dan dinding-dinding yang menyimpan kenangan. tak ada pintu. inikah ruang di mana tersimpan segala dusta? katakanlah aku keliru. mungkin ini ruang di mana pintu dan lubang ventilasi tak lagi perlu. di ruang ini mungkin aku akan menghabiskan sisa waktu. berteman kenangan yang tergurat di dinding yang berabad-abad membeku. gaung ini serupa gumam saat sendiri. mengapung di fuma rindu yang mengisi segenap ruan… Continue

Added by TSP on February 17, 2008 at 6:50pm — 2 Comments

Musim Pertama

-kepada Tulus Widjanarko di negriku sudah tak ada kartupos untuk mengabarkan musim-musim yang berlari lebih cepat dari lamunan. setiap sajak yang kubajak selalu gagal membenihkan kecambah kenangan menjadi bulir-bulir puisi. inilah kita, terjebak di rimbun embun yang buru-buru lenyap sebelum sempat kita taklukkan jernihnya yang anggun. di negriku sedang musim pertama tahun ini. tahun di mana kata-kata telah lelah dan leleh menjadi lolong tangisan. hujan tak lagi tawar, tak lagi asam,… Continue

Added by TSP on February 16, 2008 at 7:30am — No Comments

Kutu

menyadap jejak di belantara rambut yang letih tertatih antara mimpi dan ketombe waktu kepala ini terlalu tua untuk sebuah kenangan dan rambu begitu banyak membelenggu seperti ikat rambutmu Continue

Added by TSP on February 13, 2008 at 4:19pm — No Comments

Keramik

lempung merah dari ladang kita, bapa kini terlumat jemari nasib jambangan ini masih demikian lunak mencari tungku yang sungguh bara mengeraskannya hingga selicin doa liat tanah merah itu, bapa kini menunggu kutukmu mengeras merah bata Continue

Added by TSP on February 13, 2008 at 4:18pm — No Comments

Halang

setiap langkah ini, bunda adalah ayat-ayat terlantun dari bibirmu dan mantra penolak bala itu meretas setiap rintang serupa ilalang yang tersibak di padang yang penuh halang Continue

Added by TSP on February 13, 2008 at 4:17pm — No Comments

Cermin

di layar adegan dan peristiwa bergelung wajah-wajah berganti rupa antara gumam dan raung di mana lagi kau cari muka wajahmu sendiri? Continue

Added by TSP on February 13, 2008 at 4:15pm — No Comments

Blog Topics by Tags

Monthly Archives

2008

About

Bangwin Bangwin created this Ning Network.

Ruang Kelas Warung Puisi

Dear teman² Warung,
Kelas selanjutnya akan diadakan pada:

Hari/tgl: Jumat/23 Januari 2009
waktu : 14.30-1700 WIB
tema : "Sajak Jenaka"
Guru : Hasan Aspahani

Kita akan memakai Y!M conference sebagai kelas. karena itu, bagi Anda yang berminat mengikuti, silahkan add YM saya, atau email ke tongky_dj@yahoo.com , untuk saya undang ketika kelas dibuka.

nb:
Kelas ini terbatas hanya untuk member warungpuisi.ning dan warung-puisi@yahoogroups. Mohon untuk tidak mengundang pihak di luar komunitas tsb, demi tercapainya efektifitas pembelajaran.

Terimakasih.

salampuisi,
Gita Pratama

© 2009   Created by Bangwin on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service

Sign in to chat!