MENGAPA MENULIS PUISI?
narasumber: TS Pinang
Jawabannya akan subjektif
Misalnya, ada yang menulis puisi karena :
- Bentuk puisi dirasa paling ekspresif, atau
- Sebab ingin menjadi penyair (lebih ke sosok pelakunya), atau
- Sebab puisi penuh simbol (yg bisa menyamarkan hal2 yg bersifat privat) daripada prosa, atau
- Sebab saya pernah membaca bahwa 'puisi adalah bentuk tertinggi dari seni menulis', atau
- Iseng aja, buat hiburan, suka-suka..."
Nah, untuk yg contoh terakhir tsb, tidak perlu dibahas. sebab alasan semacam itu menunjukkan dia sudah final. Tidak akan ada proses selanjutnya
Apapun alasan kita menulis puisi, perlu dilihat apakah alasan itu memacu kita untuk menyelami puisi lebih dalam atau tidak. Jika iya, teruskan, jika tidak, kita perlu merevisi alasan itu, atau meninggalkan puisi sama sekali. Puisi itu serius dan penuh misteri dan resikonya sangat tinggi jika dijalani setengah2, apalagi sekedar untuk iseng, suka-suka.
Ukuran iseng/suka2 itu bisa dilihat dari kesungguhan dalam memakai bahasa. Bayangkan para empu jaman dahulu harus benar2 mengenal dan menghormati baja pilihan calon kerisnya dengan sesaji dan upacara.
lalu BAGAIMANA MENYELAMI PUISI itu?
Pertama, kita lihat puisi itu sebagai apa dulu:
1. Apakah kita melihat puisi sebagai sebuah seni kerajinan berbahasa?
2. Apakah kita melihat puisi sebagai alat penyampai pesan?
3. Apakah kita melihat puisi sebagai alat ekspresi psike kita?
4. Apakah kita melihat puisi sebagai sebuah laku spiritual?
5. Apakah kita melihat puisi sebagai........dst...dst
Secara garis besar, puisi bisa didekati dalam 2 ujudnya:
1. Yang kasatmata (tangible)
2. Yang tan-kasatmata (intangible
Yang pertama adalah unsur2 fisik puisi, meliputi bentuk, metrum, diksi, rima, metafor, dll... (silakan cari yg lain di buku2 teori).
Yang kedua unsur2 nonfisik (ini lebih enak untuk dirasakan daripada dijelaskan).
Mendalami unsur2 fisik puisi dapat dilakukan dengan mempelajari teori2, bisa juga dengan menyelidiki puisi2 yang dianggap bagus, misalnya puisi2 yg sering dimuat di koran atau media sastra.
Contoh, apa sih yang membuat sebuah puisi terasa bagus menurut kita? apa ya yang menarik dari puisi ini? Bunyinyakah? Pilihan kata2nyakah? Judulnya? Isinya? atau tipoggrafi (tataletak baris/huruf2nya)?
Atau bukan semua itu? (kalau ini yg terjadi, berarti kita sedang bersentuhan dg yang "intangible" tadi, yg abstrak).
Kita catat setiap temuan kita atas penyelidikan itu dalam ingatan kita. Lambat laun, kita akan membangun "struktur puisi" kita sendiri, bangunan puisi yang menurut kita bisa disebut sbg puisi "yg bagus" itu.
Proses ini bisa berjalan terus, berubah2, berjumpalitan dan membingungkan setiap kali kita bertemu dengan sebuah puisi yang mengejutkan. Proses itu akan berjalan terus sampai mati. Dan sepanjang proses itu akan dijumpai titik2 perhentian, titik2 pencapaian, yang mudah2an progresif sifatnya (selalu meningkat). Proses itu akumulatif, lambat, multifaset, dan saling-silang dg proses2 yg lain, dan akan berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.
Itulah yg terjadi ketika motif (dari pertanyaan "mengapa menulis puisi" tadi) menjadi "ideologi" kepenyairan, meski dalam proses penyelidikan itu kita bisa saja terpengaruh oleh gaya/bentuk sajak2 yg jadi objek tsb.
Penyair bisa menjadi insinyur/arsitek bagi puisi2nya / pelukis / musisi / analogi apapun. Ini disebabkan karena ia harus tahu,misalnya, bagaimana mengatur baris2, mengatur bait2, menyusun idiom2, menyusun ketukan, membangun imaji, dll. Semuanya dirancang, dipikirkan, didesain.
Penyair sebagai pelukis; punya kecenderungan lebih ekspresif, intuitif, dan kadang mengabaikan "aturan2 estetika", yg utama adalah gerak kalbunya itu segera tertuang dalam kanvas puisinya. Mungkin bisa jadi naturalis, ekspresionis, surrealis atau abstrak.
Sebagai musisi, seorang penyair cenderung menekankan unsur bunyi. Kemerduan suara yg dihasilkan saat puisinya kelak dibunyikan, sehingga tak jarang kedalaman isi, eksplorasi bahasa, dan elemen selain "bunyi" menjadi tidak dominan
Nah, "penyair seperti apakah anda" ini ditentukan oleh motif yang bermula dari "mengapa menulis puisi" tadi.
Akan tetapi, seorang penyair tidak harus menjadi salah satu analogi di atas. Dia bisa juga menjadi salah dua, atau salah tiga, atau semuanya. Tetapi intinya ada beberapa pendekatan menulis puisi dan setiap pendekatan akan menghasilkan stilistika* puisi yg berbeda pula, kita perlu, dan sebaiknya, mencoba beberapa pendekatan yg berbeda2 untuk mengenal "rasanya", sebelum menentukan mana yang terasa cocok dg naluri kita. Sebelum menentukan mana yang terasa cocok dg naluri kita, bagaimana merancang, membangun, menyempurnakan, plan/designing, constructing, finishing.
Penyair adalah org yang mengakrabi kegelisahannya. Kepenyairan memang diperoleh dg cara menuntut ilmu. Akibat = hasil dari sebuah proses, artinya setelah bakat, ada proses yang mengakibatkan si orang berbakat itu berhasil menjadi penyair. Setelah Belajar (mungkin setelah mengenal puisi di bangku sekolah), ada proses yang mengakibatkan dia menjadi penyair (ingat, tidak semua sarjana sastra menjadi sastrawan!). Nah, proses itu adalah: menuntut ilmu, belajar juga . menuntut ilmu bisa secara mandiri/otot-didak, bisa secara formal dan tidak cuma konsepsi melainkan juga latihan
*note:
stilistika itu bagaimana membentuk fisik puisinya
Demikian risalahnya. Bila ada kekurangan dan kesalahan, silahkan diberitahukan.
Salam hangat,
milla