Amir Hamzah bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur pada tanggal 28 Februari 1911. Dan meninggal pada tanggal 20 Maret 1946 akibat Revolusi Sosial. Di keluarganya beliau biasa dipanggil dengan Pangeran Bungsu.
Ngaji Puisi bulan Februari 2008 ini, secara sepihak kuputuskan mendaras Tengku Amir Hamzah, bersesuaian dengan bulan kelahiran beliau 97 tahun silam. Mudah-mudahan kelancangan saya ini dapat dimaafkan..
..
-----------------------------------------------------------------------------
T. AMIR HAMZAH - DAUN SIRIH TERLEPAS TANGKAI
--
Tulisan ini pernah saya ditanyangkan di milis Apresiasi Sastra
Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
...
Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju
Ciputat sepertiga malam, awal pekan kedua Juli 2007
Apa makna daun sirih bagi puak Melayu ? Daun yang batang lemahnya bersulur pada tanaman inang ini sulit hidup terpisah dari suku ini. Sirih dapat dikunyah bersama beberapa pelengkapnya (cuilan gambir, pinang dan seoleh kecil kapur) dalam sebuah perhelatan. Tujuannya, mungkin, untuk mengatakan bahwa acara tersebut bukan untuk menemukan perbedaan atau yang lebih dikenal adalah si ahlul majlis memenutup ketertutupan dirinya kepada semua hadirin. Demikianlah salah satu keadaan yang menunjukkan martabat daun sirih. Bahkan pada beberapa hajatan, sirih tetap disertakan walau tidak untuk dikunyah.
Daun sirih adalah puak Melayu itu sendiri. Daun sirih yang terlepas dari tangkainya harus memberi guna. Jika tidak, helaiannya hanya membusuk dan menjadi sampah saja. Hilanglah marwah dirinya. Tengku, di depan pandang lataku entah mengapa engkau bersulih wujud menjadi sehelai daun sirih. Azzam-mu untuk menjadikan diri manfaat untuk lidah dan tubuh Indonesiamu kurasakan seperti dinding menara mesjid Azizi
Dalam Buah Rindu yang ada di mata dan benakku selama beberapa hari, kutangkap perjuangan sehelai daun sirih yang terlepas tangkai. Mataku menatap untaian ratusan baris sajakmu dengan susunan rima yang teratur. Jua, penampilan si kembar sampiran dan isi yang bertaburan pada puluhan bait sajak-sajakmu – yang merupakan laku khas pantun. Tapi kau bukan hanya memberikan rasa pedas di lidah, ada harum tembang pantai lain dalam sajak-sajakmu. Kutemukan naga-naganya di Buah Rindu, Mas Kumambang dalam sajak Kenang-kenangan dan beberapa ucap bukan lidahmu lainnya bertebaran di antara lekuk pualam kosa kata Melayumu. Oi mak, Tengku Bungsu ! kurasakan pertarungan batinmu untuk memberi sesuatu yang baru pada bentuk syair klasik bangsamu. Kukuh betul kebanggaanmu terhadap bahasa Indonesia. Bila kau hidup kini, mungkin kau akan tak berani bersemangat sama, karena kini kami hidup dalam zaman bingung . Kami senantiasa menyukai apa yang sebenarnya tidak kami pahami. Budaya ketergesa-gesaan yang kerap kami bungkus dengan kata kebebasan memberikan kami kesenangan baru, meninggalkan aturan dan megenggam yang tak utuh. Berbahasa pun kami begitu.
Aku membawa jasadku jauh menembus masa hayatmu. Pelik betul hidupmu. Kau mirip pula dengan layang-layang yang melambung di langit. Ketika benang diulur kau begitu megah di angkasa. Seakan bentangan biru itu milikmu saja. Kepada bahasa Indonesia (Melayu), cintamu ádalah harga mati.
Terbayang mimik Armijn Pane yang tersenyum kecut ketika membaca suratmu di tarikh November 1932, “Engkau kudengar telah menjadi guru sekarang, apakah yang engaku ajarkan ? Bahasa Melayu tentu, baik-baik Pane, jangan kau lipu-lipukan bahasa yang semolek itu “. Kucermati sebaik mungkin pesanmu itu. Bahasa yang molek. Hmm benarkah demikian ? Semolek apa Bahasa Melayu itu ?
Tengku, bukankah Bahasa adalah sebuah bangun yang kompleks. Sayangnya aku hanya membaca “bahasamu” sehingga yang kucoba cerna adalah keindahan seni bersajakmu saja. Namun kufahami lekuk-lekuk syairmu adalah inti dari penemuanmu terhadap bentuk kata dan susunan kaidah sebuah sajak, pada masamu tentunya.
“ Hanya pada diri saya, saya ikatkan sengkang, jangan terlalu lekas melompat dari sebuah tempat ke tempat yang lain, dan jangan memakai sebuah kata yang belum resap-sampai artinya ke dalam tulang sungsum saya” tulismu kepada Armijn Pane. Aha ¡ itukah resepmu bersastra ?
Harum bunga melenakan Ibu
Sepoi angin mengulikkan Bonda
Putikpun tunduk berhati mutu
Hendakpun menyapa tiada kuasa
Mengapa kau pisahkan Ibu dengan Bonda ¿ dan berhati mutu, apa pula ini ¿ Tak ingin kucari jarum di antara jerami, Tengku. Kucukupkan saja keterpanaanku pada bentuk utuh syair itu. Tetapi kutahu bait itu mewakili upaya pencarianmu terhadap kata-kata yang meresap hingga ke tulang sumsum dirimu. Bagimu menulis syair ternyata kerja yang tertata. Tidak seperti aku yang menyerahkan diri pada birahi menulis dengan kenikmatan abstrak.
Pantun di tanganmu menjadi kudapan seni yang cocok dengan pencernaan semua puak yang berbahasa Melayu. Ini perjuangan berat. Aku faham betapa keras upaya engkau, Armijn dan banyak rekan-rekanmu lainnya untuk mengendalikan laju liar bahasa asing di dalam ucapan Melayu. Juga betapa gigih engkau selarasakan hidup bentuk syair klasik Melayu ke dalam kesemestaan ragam ucap bangsa ini. Pada titik ini kau adalah layangan yang membumbung tinggi. Pada bait ini kutemukan itu :
Teja ningsun buah hatiku
Lihatlah limbur mengusap gelombang
Ingatlah tuan masa dahulu
Adik guring di pangkuan abang ?
Ah, kau masukkan yang tak pernah ibumu ucapkan ke dalam syair yang biasa dia dendangkan. Tengku, kan kuanjurkan mereka untuk membaca syair-syairmu kelak. Biar kami lebih berani memamah tangkapan inderawi. Sebelum jemari menorehkan bait-bait sajak.
Tengku, tuahmu kutemukan. Seperti selembar daun sirih yang menyehatkan rongga mulut dan lensa mataku. Tak sia-sia kau lepaskan dirimu dari tangkai bersulur yang mengikat semenjak kau masih kuncup benih daun. Takzimku untukmu, Tengku ¡
Ciputat sepertiga malam, di akhir pekan pertama Juli 2007
Kajiku tentangmu belum usai. Kukalahkan kesombongan si bedebah kantuk, puh ¡
Kau lah daun sirih lepas tangkai. Pergelutan semangatmu sepi di dalam. Dalam rongga jiwamu aku menemukan sebatang lilin terbakar di atas meja dalam sebuah ruangan. Lilin yang berusaha mengisi sunyi ruangan dengan apinya. Sulit kau selamatkan dirimu sendiri akhirnya. Kau musnah, sepimu meraja. Kau sadar itu, namun kau tak ingin keluar dari ruangannya
Bunda waktu melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibu menaruh sangka
Bahwa begini permintaan anakda ?
Mengapakah rama-rama boleh bersenda
Alun boleh mencium pantai
Tetapi beta makhluk utama
Duka dan cinta menjadi selampai
Seperti apa merasakan ketidak sepadanan laku dan rasa, Tengku ? Jika memang demikian adanya, mengapa tak kau hilangkan yang tidak kau pilih atau kau selaraskan saja satu ke lainnya. Dengan keadaanmu seperti ini, banyak diantara kami melihat keraguan dalam dirimu akibat penyesalan yang mendalam terhadap pilihan. Lihatlah ¡ Ajip Rosidi mengatakan kau sebagai hati yang ragu . Apakah mereka memahamimu seperti orang yang duduk bersisian ?
Beberapa bait pantunmu memanglah menunjukkan rengkuhan yang tak teraih. Terlebih ketika kau tuliskan pasal cempaka.yang kau tinggalkan tetapi kau rindukan juga.
Teja ! hanya cempaka ditayang daun
Aneka bunga menutup bumi
Impian lama datang mengalun
Karena kusuma kenangan diri
Tapi apakah salah bila mencintai yang tidak kita miliki dan tetap mengasihi apa yang ada di tangan ? Bagiku sajak seni sedih semacam yang kau tulis itu tidak menunjukkan kasihmu yang pecah berkeping lantas kau menyesalinya. Bertaburan sajak-sajakmu telah membuat mereka tersesat memahami betapa cintanya engkau pada istri dan jauhari semata wayang kalian. Kerap mereka kaitkan sajak-sajakmu, terutama di Buah Rindu, dengan kisah kasihmu dengan Ilik Sundari. Bagiku tidak demikian, Tengku ! Tengku Tahura dan bundanya adalah kekasih hatimu hingga ajal menjemput dan Ilik Sundari adalah sejarah asmaramu yang mengendap terlalu pekat di dalam hatimu. Engkau tak salah, sebab cinta susah untuk diusir dari hati setelah sempat bermukim.
Kalau aku dalam engkau
Dan engkau dalam aku
Adakah begini jadinya
Aku hamba engkau penghulu ?
----------------------------------------------------------
Beberapa halaman yang menuliskan kisah hidup T. Amir Hamzah terdapat pada url berikut :
1-
http://personage.melayuonline.com/?a=UlZWL29QTS9VenVwRnRCb20%3D%3D&...
2-
http://www.puisi.net/index.php?option=com_content&task=view&...
3-
http://puitika.net/item/327
Dua buah karya T. Amir Hamzah dapat diambil dari url berikut :
1- Buah Rindu
http://buahrindu.tripod.com/
2- Nyanyi Sunyi
http://nyanyisunyi.5u.com/