Warung Puisi

Kupas Karya Kita (KKK) Edisi Februari 2008 (kayaknya baru bisa sebulan sekali ya program ini dilaksanakan) akan memuat sajak-sajak Joko Saputro, loveu24everdear (hai Mita!), Naz, Gita, My Bro, M. Rahardian, Chibi Avondwinkel dan Dwi Rastafara. Urutan karya dimulai dari yang paling terakhir mengirim--dari yang terpilih (ribet ya bahasanya tuing tuing). Secara belum ditemukan 'formula' yang pas untuk memilih karya2 siapa/kenapa yang akan ditampilkan dalam KKK, maka untuk edisi kali ini saya memilihnya sesuai subyektivitas saya saja. Hihihihi. Niat awal program ini sebenarnya akan membahas semua karya yang masuk (1 orang--1 karya--1 kali dibahas), tapi mengingat karya yang masuk cukup banyak (Alhamdulillah rame), jadi masukan formula dari teman-teman sangat diharapkan. Tapi jangan dipost di thread ini ya. Di thread KUPAS KARYA KITA saja. Di thread ini (KUPAS KARYA KITA EDISI FEBRUARI 2008) kan khusus untuk mengkomen/mengulas (panjang/pendek) dengan bebas sesuai bahasa masing-masing.

Selamat berkomen!


Seperti Puisi Cinta

: R

tulislah, seolah cinta itu jatuh begitu saja
seperti puisi

betapa sakit menjadi mendung
sudah jatuh masih dicaci pula
hanya untuk sampai pada samudera
ataupun telaga

Posted by joko saputro


adaptasi


mari kita biarkan potongan demi potongan saling berbenturan

sisinya satu sama lain mencari kecocokan

waktu dengan setia menunggu di ujung jalan


Posted by loveu24everdear


Penari itu

tarian itu semakin cepat
seakan menutup malam yang akan pagi
ketika musik pengiring semakin kencang
menambah ramai suasana

tapi ada rasa hampa membayangi
kosong ....
kosong ....
kosong ....

terjebak sepi dalam ramai
meluruh segala rasa
terkoyak-koyak ...
remuk...
hancur...

penglihatan pun semakin samar
bersama irama musik yang mulai menghilang
terkulai jatuh ia bersama mimpinya
hari pun menjemput pagi
ketika bayang semu menggelayuti.

~naz~


Tentang Perahu dan Siang

Padanya aku berkesah
Tentang cerita sebuah perahu
Bergoyang tenang di laut berbuih terik
Perahu tanpa kemudi, hanya sepasang dayung rapuh
Terengah menuju dermaga atau pantai tak berpasir

Lalu aku bercerita tentang kisah lain
Tentang siang yang lupa mengecilkan volume panas
Hingga menjadikan laut seasin keringat lelaki
Yang berlari mengejar tiket kapal
Menguapkan alpha pada akhir

Ceritapun sama
Gontai terbawa ombak kecil

Padahal tersimpan catatan kecil
"Menuju rumah berpenghuni"
: Dua kepala dan satu tubuh

Gita


Imajinasi Batu

Aku terdiam dalam imajinasi
imajinasi yang membatu pada satu titik di bawah nol membeku

Aku kembali pada alam yang abstrak
dan kenangan pun kembali beriak menjadi fosil ingatan berwarna

Telah terbentuk alami lewat kikisan air sungai, deras air hujan, ganas gelombang laut dan dahsyat kekuatan alam

Semua kembali dalam serak simbolik penuh arti
menyiram pelan lalu terserap kering dalam lubang waktu

Dan aku hanya mampu terpaku
dalam imajinasi batu

Posted by My Bro


Musim Tanpa Warna

Di sebuah musim tanpa warna
Himpit waktu adalah penjara

Gelagap jiwa yang terhempas
Ke dasar lelap

Menguar aroma sepi
Dari lipatan luka hati
Yang kian membusuk

Geliat akal berontak
Enyahkan sekat sekat logika
Berlari mengejar makna

Tapi langkah ini tertahan
Di jurang lelap yang sama
Ketika himpit waktu adalah penjara
Di sebuah musim tanpa warna

Posted by M. Rahadian


Tiga Malam

daun
yang pucuknya memindai rembulan

atas nama hijau yang jadi ungu
dan semua yang jadi hitam

tak ada indah yang lebih indah

kelam

yang sunyinya membuat tenang


Posted by chibi_avondwinkel


Dendam

Aku tiba-tiba tersentak ketika angin basah
berhembus menerpa wajahku
Apakah aku sedang tertidur?
Atau bermimpi?
Ketika kali pertama aku melihatmu,
aku tidak memanggilmu,
juga tidak melambai padamu
Lalu aku duduk di bangku besi stasiun,
di depanku perempuan menggodaku
dengan senyum lepasnya,
matanya jalang...
Dia mendekatiku, lalu semakin menggodaku
di setiap menit yang ku punya
Lebih baik kau ikut duduk di sebelahku
agar aku tak sendiri dgn perempuan
yang matanya jalang ini
Aku tau, di tanganmu ada sebilah belati
yang kau sembunyikan di balik tubuhmu,
di dadamu ada dendam yang membara
Pada ku kah?
Atau pada perempuan yang matanya jalang ini?

Jakarta, 29 Januari 2008
Dwi Rastafara

Share

Reply to This

Replies to This Discussion

hai bunda. . terima kasiiih sudah boleh masuk di list-nya kupas karya kita ...hehehehe..siap di kupas deh sampai kelihatan isinya matang atau masih mentah. . semoga matangnya bukan karena aku karbit ya. . :-p

Reply to This

bunda ... terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada sajakku untuk masuk dalam list kupas karya ini hihihihihihi gak sabar menanti kupasan2 dari teman2 sekalian hehehehe

Reply to This

Bunda, makasih ya udeh kasih kesempatan ke aye,wah kayaknya aye harus cepat-cepat cari obat anti nervous nih biar nggak terbang terlalu tinggi atawe jatuh sampai sejatuh-jatuhnye.he..he..he

Reply to This

wah.. makasih bun... kalau begini sepertinya aku harus belajar mengupas puisi. huwehehehe...

ok untuk belajar mengupas puisi saya pilih yang paling pendek dan paling ngena' di aku deh.. (pake' bahasa gaul gpp ya...hehehehe...). aku pilih puisi mbak mita yang judulnya "adaptasi" sesuai penglihatan dan pemahamanku yang dangkal. puisi karya adaptasi ini menceritakan suatu proses menuju kecocokan entah pada apa. karna diriku sok gawul jadi aku menarik garis masalah di soal jodoh. memadukan dua kepribadian yang berbeda memang tidaklah mudah tapi itu wajar dan biarkan saja mengalir. misal antara sudut yang berbentuk kotak dan segitiga ditautkan pasti tidak cocok bukan. tapi memangnya kenapa kalau tidak bisa pas susunannya. *kalau sama sama segitiga aja bisa gak cocok apa lagi yang berbeda. jadi biarkan saja ketidak cocokan itu mencari jalannya sendiri untuk saling mengisi dan melengkapi. dan ketika semua bisa berjalan bersama pasti semua terasa lebih manis. jadi menurut saya kalau ada yang bilang "saya putus dengan si A, karna sudah gak cocok" lah itu sih alasan, ngomong aja klo bosen. asal masing masing dari kita mau saling memaklumi dan menghargai orang rasanya kok aman aman aja yak? pasti jalan damai akan tercapai. (brasa ceramah?hehehehehee...)

Aku tadi nulis apa yak di atas tadi? huwehehehe.. sudah bun.. sanggupnya segitu. itu aja udah mentok baru belajar nih.. jangan dimarahii yaaa....!

Reply to This

[Ulasan atok-atok untuk Kupas Karya Kita Februari 2008] ~ Memberi Manfaat Pada Puisi


Seperti Minggu pagi sebelumnya, saya selalu memulai dengan debar ketika akan membuka lembaran sastra pada koran langganan saya. Saya selalu mulai dengan membuka satu halaman setelah halaman yang memuat puisi dan cerpen, saya sudah hafal luar kepala di mana lembaran sastra itu akan ditempatkan. Tindakan aneh ini saya lakukan untuk mendapatkan ada jeda sebelum suatu kejutan akan diterima oleh mata dan fikiran saya. Semua itu saya lakukan walau tidak satu kalipun saya mengirimkan karya saya ke koran tersebut. Mengherankan bukan.? Tidak perlu heranlah. Saya melakukan tindakan tak awam itu karena saya bukan pembaca rajin dan saya adalah tipe pembaca puisi yang senang mencari kejutan dari puisi yang saya baca. Semua keterbatasan itu membuat saya harus berlaku cermat dan cepat dalam membaca. Kegembiraan akan membuat saya seperti seorang pelari sprint yang kalah di garis finish (?) ketika puisi yang saya baca itu mengitik-ngitik saya dengan pesan dan tafsiran yang tak tuntas. Lalu saya akan bergumam ”Wah, jelebau memang penyair ini. Kenapa dia bikin puisi seperti ini dan aku tak bisa ? Tak ada susah-susahnya bikin puisi seperti ini menurutku” Tapi, pagi ini saya kecewa. Saya seakan kehilangan uang Rp 7.500 sebab tidak mendapatkan apapun dari puisi-puisi di koran-koran itu. Tapi tak apalah. Setidaknya masih ada berita tentang Four Season sebuah boys band lokal yang mencoba bernyanyi dalam bahasa Mandarin. Bukan tentang sastra memang, namun tetap ada manfaat dari berita itu bagi saya.

Perlukah puisi memberi manfaat ? Ini pertanyaan yang usang sebenarnya. Dan pasti akan menimbulkan polemik tak berkesudahan yang akan menjebak mereka yang bersitegang untuk berhenti berfikir dan menulis puisi itu sendiri. Belum lagi tentang definisi apa itu puisi. Bah ! Coba kalian lihat di ”kamar” sebelah. Bagaimana huruf-huruf dalam surel mereka kerap terbaca dalam font Courier New ukuran 18 berwarna merah yang ditebalkan. Mereka meributkan apa itu puisi untuk beberapa paragraf yang sebenarnya mudah sekali dilihat, walau tanpa sebuah suryakanta.

Ya. Puisi harus memberi manfaat. Itu jawaban saya. Bukan hanya puisi saja. Tapi semua produk diri kita (ucapan, tindakan dan fikiran) memang seharusnya memberi manfaat. Toh, kita sendiri tidak diciptakan dengan tidak bermafaat (kesiasiaan) kan ? Manfaat seperti apa yang sebaiknya ada dari sebuah puisi ? Budi Darma mengatakan (saya tidak tau apakah ini perkataan murni pak Budi Darma atau kutipan, namun saya membacanya dari buku pak Budi Darma) manfaat terbaik dari sebuah puisi adalah memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk menafsirkan. Mungkin yang dimaksud pak Budi Darma dengan menafsirkan itu adalah menguak makna dari lambang-lambang dan merumuskan inti ide puisi tersebut. Jika demikian, kerja menafsirkan sangatlah berbeda dengan menterjemahkan. Menafsirkan adalah kerja lapis kedua setelah menterjemahkan. Lantas bila demikian, maka tak ada yang tidak menarik dari sebuah puisi lah ! Bukankah puisi itu adalah kumpulan lambang-lambang yang KITA (pembaca) akan terjemahkan atau/dan tafsirkan ? Lambang apapun selalu mempunyai potensi untuk diterjemahkan atau/dan ditafsirkan, bukankah demikian ? Lah, kenapa saya harus merasa rugi Rp 7.500 ya ?

”Tenang... Tarik nafasmu dulu pakcik... Ingat umurmu, tak baik kalau kau berada dalam keadaan panik dan tertekan..” ada yang membisikkan saya seperti itu. Lalu saya bangkit dari kursi plastik merah kecil kemudian membuka pintu depan dengan sebatang Sampoerna A Mild dan korek api Cricket di tangan. Duduk di selasar kontrakan saya tepat di sebelah rimbunan Aglaonema Donna Carmen yang sudah menyemak. Selanjutnya sudah pasti menyalakan rokok dan melihat langit yang hari ini lumayan jernih. Sebab tidak ada lagi gumpalan awan bermuatan air yang menggantung. Jangan ditiru apa yang saya lakukan ini. Tidak baik untuk kesehatan juga uang belanja anda. Yakinlah !
Memang demikianlah logika kita akan berujar. Tapi kehadiran lambang-lambang yang kita tangkap dengan inderawi kita semestinya hidup dan berdenyut terus. Mereka tidak harus mati setelah fikiran kita mematikannya pada sebuah kesimpulan yang sangat mudah. Puisi (lambang-lamang) yang tidak pernah mati itulah yang bernilai manfaat tinggi. Ini apoloji yang saya dapakan dari duduk di selasar kontrakan barusan.

Nah, apakah puisi-puisi yang ditampilkan pada Kupas Karya Kita bulan Februari ini mengayakan tafsiran saya? Bagi saya pribadi, hanya 2 puisi yang kaya tafsiran. Yaitu puisi chibi_avondwinkel dan Gita. Kedua puisi ini bukanlah puisi-puisi yang mudah untuk diterjemahkan. Dan yang pasti tidak membunuh keinginan saya untuk mencari tafsiran pesan yang ingin disampaikan para penyairnya. Walaupun untuk kadar penasarannya, puisi Gita masih belum sedahsyat puisi chibi_avondwinkel. Saya tidak dekat dengan mereka berdua (baik dalam arti jarak maupun kekerapan berkomunikasi). Namun saya seperti merasakan ada kedalaman penggalian upaya yang mereka lakukan untuk membentuk tubuh puisi-puisi mereka. Endapan. Ya, puisi-puisi mereka sepertinya merupakan hasil dari pengendapan. Proses pengendapan inilah yang berkali-kali diajarkan kepada saya oleh para guru. Bisa saja mereka melakukannya dengan merangkumkan jutaan rangsangan pada syaraf-syaraf perasaan (emosi) mereka ke dalam perangkat puisi. Atau jika mereka mujur, bisa saja ini merupakan sebuah ledakan dari sebuah bom yang dirakit dalam waktu singkat. Saya tidak tahu.

Lantas bagaimana dengan puisi-puisi yang lain ? Menurut saya selain puisi-puisi yang ditulis oleh chibi_avondwinkel dan Gita kesemuanya tidak kaya. Manfaat yang diberikan kepada saya berupa tafsiran baru kurang dapat saya tangkap. Puisi-puisi ini telah membunuh saya pada saat saya baru selesai menterjemahkannya. Terutama puisi NAZ dan Dwi Rastafara. Kedua penyair ini seakan membunuh keinginan saya untuk menafsirkan puisi mereka lebih jauh dengan sebuah tebasan pedang paling tajam tepat di tengkuk.

Akhir sebuah kombur

Baiklah, saya akan akhiri kombur sok pintar saya ini.

Menulis puisi, ataupun berkarya dalam bidang seni lainnya, dapat dibuat mudah dan menghibur. Tulis saja secepat apa yang terlintas di benak dengan kecepatan tinggi. Atau tuliskan saja sketsa yang mudah dari tebakan kita terhadap perasaan (emosi) umum dengan sangat universal. Lantas matikan dengan ketidak inginan kita untuk membongkar pasang puisi itu yang semestinya masih dapat memenuhi rongga dada tafsiran. Setelah itu buang semua kemungkinan bertebarannya sandi-sandi belum terbuka. Namun, kita hanya akan mendapatkan puisi-puisi yang gampang mati pula. Puisi-puisi yang hanya membuat pembacanya menangis setelah membacanya. Lalu menangis lagi ketika dia membaca ulang puisi itu. Bukankah akan semakin bermanfaat jika puisi kita yang pada bacaan pertama menimbulkan rasa haru menumpuk tangis, kemudian malah membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal pada bacaan kedua. Dan pada bacaan ketiga pembaca tersebut akan menemukan wajah Tuhan di dalamnya.

Jika demikian apakah kita hanya puas dengan puisi yang hanya dapat diterjemahkan tanpa memberikan manfaat tafsiran, padahal pena dan intuisi kita ada di tangan dan fikir kita ?

* ciputat 100208 – 22:59

Reply to This

matur nuwun sanget, paman. . :-) ulasan yang mengena. . dan menjadi koreksi serta pelajaran untuk aku. . :-)

Reply to This

Ah Gitaaa... senangnya melihat dirimu nyebur di Kupas Karya Kita *peluk-peluk Gitgits :-)*. Lagi Gits lagiii...

Reply to This

Hai Mita, Mirza dan Naz! dan yang lainnya, ikutan ngupas donggg.... Ditunggu ya!

Reply to This

[Renungan Untuk Diri Sendiri]

Sebuah puisi sebaiknya memang kaya akan penafsiran. Tetapi penulis juga harus menguasai alat pengucapan (citraan-citraan yang ia kenal dengan baik) sehingga cara pengungkapannya tidak terasa dibuat-buat dan pengalaman batin yang diungkapkannya menjadi tidak terasa dangkal. Tidak juga penulis harus tergelincir pada sajak-sajak gelap karena ingin karyanya dimultitafsirkan oleh pembaca dan/atau penulis ingin menyembunyikan apa yang ingin diungkapkannya. Meski tidak semua sajak gelap memutus komunikasi dengan pembaca karena ada beberapa di antara karya-karya itu, yang meski kita tidak terlalu mengerti maknanya, kita tetap bisa merasakannya di dalam hati kita.

Sajak juga bisa sederhana dan tetap menggugah perasaan. Seperti contoh beberapa sajak Rita Oetoro, penyair perempuan senior (lahir tahun '43). Sajak-sajak Rita Oetoro adalah contoh-contoh pengungkapan diri yang bersahaja dan jernih. Puisi-puisi yang lahir dari ilham sejati.

b. kemala

sang guru, restui daku
di pematang ini--menanti
pucuk-pucuk bersemi
dalam puisi



panorama

lembah itu tidak seberapa luas
di tepi kota--dan
hijau semata
hijau perdu-perdu liar serta
gemuruh air terjun
di batu-batu sungai


nyanyian senja

pernah tertulis--lagu
ini, dulu sekali
tentang aquarel
tentang api
dan harapan

tidak setapak pun--jalan
surut, bunda
dengan tulus
dengan cinta
kuterima;
kehitaman karma



paviliyun pius

ketika tiba saatnya--kita
mengenal diri sendiri
alangkah banyaknya nestapa
di sekitar kita

lihatlah perempuan itu--dia
terpilih untuk menebus karma yang
belum terbayar

ketika tiba saatnya--kita
mengenal diri sendiri
hiruk-pikuk jakarta
berubah menjadi
senyap sepi gethsemani


Enjoy!

Reply to This

Ah Simbok Yelo...
Aku setuju denganmu. Dalam kelemotanku ini sajak/puisi sebenarnya harus..dan mesti... terang namun tidak menerangkan. Aku selalu saja membuat kata-kata yang membingungkan ya..

Begini..

Jika sebuah puisi terlalu terang hingga aku dapat dengan jelas melongok ke dalam rongga dada imajinasi penyairnya, aku seperti menghadapi algojo pembunuh. Menurutku, puisi sejenis ini adalah puisi yang sangat egois. Selayaknya puisi seperti ini dituliskan lantas disimpan saja dalam buku catatan harian. Tidak semua orang mendapatkan manfaat dari apa yang kita keluhkesahkan bukan ? Tapi bila jeli dan cerdik, puisi tersebut akan hadir dalam bentuk yang jelas namun pembacanya tidak serta merta melihat penyair itu meraung-raung di dalamnya karena kesepian misalnya. Kesedihan yang dirasakan pembacanya adalah tafsiran yang berbeda terhadap peristiwa gloomy dari si penyair. Singkatnya, pembaca tidak akan pernah menemukan secara pasti bahwa si penyair bersedih karena dompetnya baru saja dicopet seseorang di dalam Metro Mini 611. Yang ia (pembaca) tahu adalah si penyair sedang bersedih.

Lihat mblibet kan uraianku.. Mungkin udah sepantasnya aku ikut program khusus untuk mensinkronkan fikiran dan ucapan.. hehehehe

salam Daun Sirih

pakcik Ahmad

Reply to This

mita ponakan kembarku...
jangan terlalu diambil hati ya.. anggap aja orang tua yang suka misuh-misuh nggak genah...

:D

Reply to This

huwehehehe.. mampunya segitu... bentar.. nanti dicoba2 lagi.

Reply to This

Reply to This

RSS

Ruang Kelas Warung Puisi

Dear teman-teman,
Warung Puisi kembali mengadakan Kelas Puisi Online
Diadakan pada:

Hari/tgl: Selasa/ 22 Desember 2009
Waktu : 16.00-1700 WIB
Guru : Dino Umahuk
Tema : "Konstruksi Puisi"

Kita akan memakai Y!M conference sebagai kelas, karena itu, bagi Anda yang berminat mengikuti, silahkan add YM saya (ID: chibiuchilda), atau email ke chibiuchilda@yahoo.com , untuk saya undang ketika kelas dibuka.

nb:
Kelas ini terbatas hanya untuk member warungpuisi.ning.com dan warung-puisi@yahoogroups.
Mohon untuk tidak mengundang pihak di luar komunitas ini, demi tercapainya efektivitas pembelajaran.

Terimakasih

Salam puisi,
Chibi Hilda

© 2009   Created by Bangwin on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service

Sign in to chat!